PUASA DAN KEUTAMAANNYA

Posted: 31 Juli 2011 in Uncategorized

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : “Puasa itu benteng, maka janganlah berkata keji dan jangan berbodoh diri. Jika seseorang menentang atau memakinya maka hendaklah ia berkata : “Sesungguhnya saya sedang berpuasa” – dua kali. Demi Dzat yang diriku di’ tanganNya, bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi. Ia meninggalkan makanan, minuman dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untukKu dan Aku membalasnya. Kebaikan itu lipat sepuluhnya. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. Allah berfirman : “Seluruh amal anak Adam baginya selain puasa, sesung­guhnya puasa itu bagiKu dan Aku membalasnya. Sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Puasa itu bagKu, ia meninggalkan syahwatnya, makanan dan minumnya karena Aku. Puasa itu perisai. Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka dan kesenangan ketika bertemu dengan Tuhannya. Sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Setiap amal anak Adam baginya selain puasa, puasa itu bagiKu dan Aku membalasnya”. Demi Dzat yang diriKu ditanganNya sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw: bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Setiap amal anak Adam itu baginya selain puasa, sesungguhnya puasa itu bagiKu, dan Aku membalasnya. Puasa itu perisai. Apabila salah seorang di antaramu berpuasa pada suatu hari maka janganlah berkata keji dan jangan teriak-teriak pada hari itu. Jika salah seorang memakimu atau melawanmu maka katakanlah : “Sesungguhnya saya sedang berpuasa. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tanganNya, sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum disisi Allah pada hari Qiyamat dari pada bau kasturi. Orang yang berpuasa itu mendapat dua kesenangan yang dinikmatinya yaitu apabila ia berbuka, maka senang karena bukanya dan apabila bertemu dengan Tuhannya, maka ia senang karena puasanya. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya Tuhanmu berfirman : “Setiap kebaikan itu sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Puasa itu bagiKu dan Aku membalasnva. Puasa itu perisai dari neraka. Sungguh bau busuknva mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi. Jika salah seorang di antaramu sedang berpuasa dijahili oleh orang jahil maka katakanlah : “Sesungguhnya saya ini sedang berpuasa”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. telah bersabda: Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “HambaKu yang paling Aku cintai adalah or­ang yang paling segera berbuka”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Setiap amal anak Adam itu dilipatkan. Kebaikan dilipatkan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali, sampai sekehendak Allah. Allah berfirman : “Selain puasa, sesungguhnya puasa itu untukKu, dan Aku membalasnva, ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku. Orang yang berpuasa mendapat dua kesenangan yaitu kesenangan ketika berbuka dan kesenangan ketika bertemu Tuhannya. Sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum disisi Allah dari pada bau Kasturi”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

Dari Ali bin Abi Thalib ra., beliau dari Rasulullah saw., beliau bersabda : “Sesunguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman : “Puasa itu untukKu dan Aku membalasnya. Orang yang berpuasa itu mendapat dua kegembiraan, yaitu ketika berbuka dan ketika bertemu dengan Tuhannya. Demi Dzat Yang jiwa Muhammad di tanganNya, sungguh bau busuknva mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi.

Dari Abi Said al Khudri ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda : Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi bertirman : “Puasa itu bagiKu dan Aku mem­balasnya. Orang yang berpuasa itu mendapat dua kegembiraan, yaitu apabila ia berbuka maka bergembira dan apabila bertemu Tuhannya dan Tuhan memberinya balasan, maka ia bergembira. Demi Dzat vang jiwa Muhammad di-tanganNya, sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu disisi Allah lebih harum daripada bau kasturi.

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi berfirman : “Setiap amal anak Adam itu baginya selain puasa. Puasa itu bagiKu dan Aku membalasnya. Puasa itu perisai. Apabila salah seorang dari padamu berpuasa pada suatu hari, maka janganlah ia berkata keji dan jangan berteriak­teriak. Jika ia dicaci maki atau dilawan oleh seseorang maka hendaklah ia mengatakan: “Saya ini sedang berpuasa. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tanganNya, sungguh bau busuk mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi”.


Kisah sedih tentang kredit juga di alami warga Samarinda, bernama Aprilyawan. Didepan sejumlah warga dan wartawan yang kebetulan ada dilokasi kejadian Aprilyawan di perlakukan secara kasar oleh salah seorang yang diduga kuat dari salah satu Depcolector yang ada di Samarinda. Kejadian itu sendiri terjadi tak jauh dari perum Talangsari Samarinda Utara sabtu (30/7) pukul 11.30 wita.
Hanya saja hingga saat ini polisi masih kesulitan untuk mendapatkan bukti, sebab baik pelaku maupun korban sudah tidak berada di tempat kejadian perkara (TKP) ketika polisi tiba. Meski begitu pihak kepolisian akan terus mengusut kejadian yang diduga kuat akibat masalah kredit. Sikap melarikan diri yang dilakukan korban cukup disesalkan oleh sejumlah orang termasuk aparat. Sebab dikuatirkan kejadian ini akan terus berlanjut bahkan bisa lebih berbahaya lagi.
Sarosa Hamomgpranoto, pengamat hukum di kalimantan timur menilai tindakan kekerasan terhadap nasabah apalagi adalah tindakan kriminal. “Harusnya kasus menyangkut hutang piutang tidak selayaknya dilakukan dengan jalan kekerasan,” tegasnya.
Sarosa secara khusus meminta aparat penegak hukum menindak tegas tindakan yang dilakukan secara sewenang-wenang oleh depcolector dengan tujuan untuk memberikan aspek jera. “Tidak ada tindakan yang lebih baik dilakukan oleh aparat selain menindak pelaku untuk memberikan aspek jera,” tambah Sarosa.


solusi kemacetan

Kondisi lingkungan samarinda makin memprihatinkan terutama kemacetan. Untuk mengatasi masalah ini dibutuhkan cara dan solusi terbaik agar macet bisa diminimalisir. Sebagai anak bangsa selayaknya kita wajib memberikan masukan untuk dijadikan kajian bagi pemerintah. Saran dari pembara tentu sangat diharapkan agar kota Ini layak dijadikan kawasan tujuan wisata karena kenyamanan dalam berkendara.


Aktifitas pertambangan CV 77 di kawasan kebon agung, Lempake Samarinda Utara Sabtu (30/7) siang di hentikan warga dari tujuh rukun tetangga (RT). Alasan penghentian itu karena aktifitas tersebut dianggap mengganggu kehidupan dan tidak memiliki dampak ekonomi bagi warga setempat.
Ratusan aksi warga ini dimulai dengan menutup jalan utama dengan membuat portal. Akibatnya aktifitas tambang berhenti total. Warga menuntut agar kegiatan tambang tidak lagi dilakukan di dekat pemukiman padat penduduk, karena akan menimbulkan dampak buruk bagi warga.
Warga juga merasa heran dengan sikap pemerintah yang bersedia menerbitkan ijin penambangan di kawasan pemukiman warga. Warga menduga, telah terjadi kesepakatan yang tidak tertuang dalam kertas, sehingga ijin operasionalnya diterbitkan.
Didik purwijiantoro satu diantara warga yang ikut berdemo menyebut akan terus melakukan aksinya jika pihak pengembang tetap melanjutkan aktifitasnya. Bahkan dia bersama ratusan warga mengancam akan melakukan tindakan lebih tegas jika pengembang tak segera mengehentikan aktifitasnya.
“ini sudah keterlaluan, aktifitas tambang koq bisa dilakukan di dekat pemukiman warga,” kata Didik.

BISNIS PERHOTELAN

Posted: 29 Juli 2011 in Uncategorized

GELIAT BISNIS PERHOTELAN

Geliat bisnis perhotelan di Samarinda cenderung meningkat. untuk saat ini tingkat hunian rata-rata mencapai 60 % perhari. Kuatnya tingkat hunian ini tentu dipengaruhi oleh ragam bisnis seperti pertambangan dan perkebunan yang cenderung meningkat. Karenanya tak heran sejumlah pengusaha percaya bahwa bisnis perhotelan ini merupakan bisnis yang cukup menggiurkan untuk di coba……………. berita lengkapnya ada di edisi juni – juli……………….

KABAR HARI INI

Posted: 29 Juli 2011 in Uncategorized

Harga TBS Kaltim anjlok

Berdasarkan keputusan rapat Tim Penetapan Harga Pembelian Tandan Buah Segar (H-TBS) Kelapa Sawit, maka harga untuk bulan ini mengalami penurunan.
Ketetapan Tim ini sesuai dengan SK Gubernur Kaltim Nomor 525/K.402/2010. Pada Kamis (28/7), Tim Penetapan H-TBS Kaltim telah melaksanakan rapat penetapan H-TBS Kelapa Sawit untuk bulan ini atau berlaku sejak 1 sampai 31 Agustus 2011 yang diberlakukan untuk seluruh kabupaten dan kota wilayah Kalimantan Timur.
“Dalam proses jual beli memang sering terjadi turun naik harga, sehingga ini menjadi hal yang biasa dalam pelaksanaannya. Petani sawit di Kaltim tidak usah khawatir mengenai penurunan harga,”kata Kepala Bidang Usaha Dinas Perkebunan Kaltim, yang juga Ketua Tim Pelaksana Penetapan H-TBS Kaltim Etnawaty Usman.
Pemberitahuan HTBS Kelapa Sawit ini, sekaligus berlaku sebagai undangan bagi seluruh anggota Tim untuk datang pada rapat pembahasan HTBS pada Rabu (7/9) untuk penetapan harga pada Agustus 2011. Sedangkan data ataupun informasi perusahaan sumber data dapat disampaikan kepada Tim selambat-lambatnya pada Selasa (6/9). Diharapkan penetapan harga September 2011 bisa ditentukan lebih awal. Sesuai dengan Peraturan Gubernur Kaltim Nomor 41 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan pembelian Harga TBS Kelapa Sawit produksi pekebun (Plasma) di Kaltim. Maka hasil keputusan Tim diberlakukan untuk setiap transaksi jual beli TBS Kelapa Sawit produksi pekebun di Kaltim untuk periode Agustus 2011 ini.(yans/hmsprov) Umur Tanam Juli Agustus 3 Tahun Rp.1.098,67 Rp.1.012,57 4 Tahun Rp.1.181,20 Rp.1.088,91 5 Tahun Rp.1.266,13 Rp.1.167,48 6 Tahun Rp.1.310,48 Rp.1.208,35 7 Tahun Rp.1.356,41 Rp.1.250,52 8 Tahun Rp.1.400,75 Rp.1.291,39 9 Tahun Rp.1.446,68 Rp.1.333,56 10-25 Tahun Rp.1.493,20 Rp.1.376,29

Sucses Story

Posted: 29 Juli 2011 in Uncategorized
Tag:

Sugeng Chairuddin
Dulu Pedagang Asongan,
Kini Kepala Dinas

Makan pakai terasi, menjadi pedagang asongan, jual kopiah, bunga dan kartu lebaran hingga tidur beralas tikar pernah dijalaninya. Namun kini, buah kerja kerasnya memberikan hasil yang tak disangka-sangka. Dia menjadi orang nomor satu di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Samarinda.

(Naskah dan Foto: Bahron Ansori)

Seolah tak kenal lelah, anak SMP itu, selepas Maghrib terlihat kesana kemari menghampiri orang-orang yang datang mengunjungi gedung bioskop Wisma Citra di Rajawali Samarinda kala itu. Wajahnya terlihat letih, namun ia tetap berusaha untuk menjajakan minuman ringan dan beberapa jenis makanan lain kepada pengunjung yang mulai berdatangan. Sesekali ia menyeka keringat yang mengalir di kepala dengan salah satu tangannya. Ia berjualan sejak pukul 19.00 hingga pukul 23.00 wita.
Anak itulah Sugeng Chairuddin,,,, demi mennyambung hidupnya tidak hanya berjualan asongan dilakukannya,,,,,,,,,,,,, cerita lengkapnya ada di Majalah Borneo News Edisi juli – agustus 2011.

HIBURAN

Posted: 28 Juli 2011 in Uncategorized
Tag:

MUSIK
ANTARA SENI, IDEALISME DAN BISNIS

Naskah & foto : Khrisna

Industri musik Indonesia sempat terpuruk awal 2000-an, akibat gempuran kaset dan CD bajakan serta internet yang menyediakan jasa unduh lagu secara gratis. Para pelaku bisnis musik masih bisa meraup keuntungan dari ringback tone service atau nada sambung yang berasimilasi dengan operator selular.
Bagaimana dengan para musisinya sendiri? Apakah musik dapat menjadi mata pencaharian yang menjanjikan ?
Khrisna, gitaris, drummer, sekaligus pendiri Borneocoustic mengutarakan pendapatnya. Menurut pria yang pertama kali menginjakan kaki ke Samarinda pada 1999 ini, para pekerja musik, khususnya musisi café seperti Band Borneocoustic harus memiliki mata pencaharian sampingan. Selain karena persaingannya ketat, faktor umur juga sedikit banyak mempengaruhi. “Umur juga berpengaruh. Tidak selamanya kita bisa eksis. Mungkin nanti ada yang lebih muda, lebih fresh, atau lebih murah harganya. Tapi kalau buat saya ada harga ada kualitas,” ujarnya.
Soal idealisme dalam berkarya, dia punya jawaban tersendiri. “Karena sudah berkeluarga dan punya tanggungan masing-masing, jadi tidak berpikir lagi ke arah situ (idealism, red.). Sudah tidak ada pikiran untuk berkarya, buat rekaman dan terkenal. Karena pada dasarnya kita bermusik untuk mencari nafkah bukan untuk ketenaran,” ungkap pria plontos ini.
Menurutnya, dalam industri musik idealisme dan bisnis ibarat air dan minyak. Jarang musisi yang bisa meraih kesuksesan secara materi tanpa mengorbankan sisi idealisnya. Tapi, ada juga musisi yang tidak memperdulikan bisnis atau materi. Bagi mereka musik adalah kepuasan pribadi yang tak dapat dibeli oleh uang. Tak jarang musisi yang memiliki kualitas bagus tapi tak sukses dalam industri musik. “Selera pasarlah yang menentukan meskipun beberapa musisi yang sukses dalam musik tak memiliki kualitas yang mumpuni,” ujarnya.
Borneocoustic sendiri terbentuk pada 11 November 2007. Band yang beranggotakan Khrisna (gitar/drum), Ijul (bass/vokal), Yeyen (gitar), Inu (vokal), Nouna (vokal) dan Nida (keyboard) ini adalah band top 40 spesialis café dan wedding party. Personilnya yang memiliki umur yang berbeda-beda menjadi keuntungan tersendiri bagi mereka.
“Karena personil kita ada yang muda ada yang tua, jadi pembendaharaan lagu-lagu sangat luas. Mulai yang sedang ngetren sampai yang oldies. Jadinya seimbang,” ungkap Khrisna tersenyum.
Mengenai perkembangan musik di Samarinda sendiri menurutnya cukup bagus, hanya yang kurang adalah media bagi mereka untuk unjuk gigi. Selain para musisi yang berperan sebagai performer, ada juga yang bekerja dibalik layar. Seperti para sound engineer, arranger musik, atau pun guru musik.
Sementara itu, menurut Desy Aryani Muchtar (23), mantan supervisor di label rekaman PT. Karyakarismha berbasis di Jakarta ini mengatakan para pelaku industri musik di balik layar ini lumayan menjanjikan. “Kalau di industri label sebagai supervisor profesi ini lumayan menjanjikan, karena kita membawahi beberapa divisi di suatu label rekaman. Kalau arranger music dan music director beda lagi, biasanya bayarannya per lagu dan biasanya dua profesi ini dijalankan oleh satu orang yang sama,” ujarnya.
Sedangkan mengenai masalah idalisme dalam bisnis musik, wanita muda penuh talenta ini memiliki pandangannya sendiri. “Bagi kita, bisnis harus ada profitnya. Kadang, ada musisi yang terlalu idealis sehingga musiknya kurang diterima masyarakat. Tapi ada juga idealis yang bisa diterima, contohnya Sandhy Sondoro atau dance company. Musik mereka unik dan tidak pasaran,” tambahnya.
Wanita yang juga mantan instruktur vokal di Ebony Music School (EMS) Samarinda ini mengatakan bahwa prospek bisnis label musik di Samarinda sendiri kurang menjanjikan. “Bisnis label di Samarinda agak sulit. Semua musisisi atau band yang berniat masuk ke industri musik nasional pasti harus ke Jakarta. Disana (Jakarta, red.) kan pusat industri musik Indonesia. Kecuali kalau mau buka studio rekaman disini (Samarinda, red.) prospeknya lumayan soalnya anak-anak band Samarinda banyak yang punya lagu sendiri. Kadang mereka membuat demo atau mini album,” pungkasnya.

KULINER

Posted: 28 Juli 2011 in Uncategorized
Tag:

BAKSO KEPALA SAPI,
FRANCHISE LEZAT DAN MURAH
Berawal dari kesukaannya pada bakso, membawanya bertekad menyajikan bakso yang sehat kepada warga Samarinda. Ia pun kini menjadi pemilik warung Bakso Kepala Sapi beromset Rp 3 Juta per hari.
Naskah & Foto: Chacha dan Ardian

Siapa yang tak kenal bakso sebagai makanan yang paling digemari. Namun ada sebagian orang yang menganggap bakso tak lebih dari junk food atau makanan sampah yang dapat meningkatkan kadar kolestrol dan kurang menyehatkan. Tapi, benarkah bakso itu tidak menyehatkan bagi manusia?
Pendapat miring seperti di atas juga pernah menerpa Bakso Kepala Sapi milik Didit. Namun ternyata Bakso Kepala Sapi berkembang menjadi usaha franchise. Di Indonesia, sistem franchise Bakso Kepala Sapi sudah memiliki kurang lebih 950 cabang yang tersebar di seluruh Nusantara.
Di Samarinda sendiri, terdapat tiga cabang warung Bakso Kepala Sapi dengan owner yang berbeda. Salah satunya adalah Didit, yang merupakan pencetus pertama Bakso Kepala Sapi di Samarinda. Warung milik Didit beralamat di jalan Slamet Riadi No. 23 Samarinda.
Didit yang merupakan lulusan Universitas Balaiho International Yogyakarta, baru tujuh bulan menetap di Samarinda. Sebagai penggemar bakso ia mengaku sangat menyukai Bakso Kepala Sapi karena konsepnya lebih mengutamakan kesehatan, tidak seperti bakso-bakso lainnya.
“Saya penggemar bakso dan Bakso Kepala Sapi ini adalah bakso yang paling pas di lidah saya. Selain itu, bakso ini juga lebih mengutamakan kesehatan. Jadi saya suka,” tutur Didit seraya memainkan jari-jarinya di atas keypad blackberry yang tergenggam di tangan kanannya.

Nama Bakso Kepala Sapi ia pilih semata karena menginginkan sebuah sebutan unik agar lebih dikenal oleh masyarakat luas. “Kalau Bakso Daging Sapi kan sudah biasa, kalau Bakso Kepala Sapi kan pasti bikin penasaran,” tuturnya menampik anggapan Kepala Sapi ada dalam penyajian baksonya.
Hal yang menggugahnya untuk berbisnis kuliner adalah gaya hidup masyarakat Samarinda sebagai orang-orang yang gemar jajan atau makan di luar. Karenanya ia memberanikan diri hijrah dari Jawa Timur demi mengembangkan dan mengenalkan Bakso Kepala Sapi kepada masyarakat Samarinda. “Kalau di Jawa mah orang-orangnya nggak suka makan di luar, mereka lebih suka masak sendiri. Tapi kalau orang Samarinda kan lebih suka yang cepat saji, makanya saya berani pindah dan membuka usaha ini,” aku Didit seraya tersenyum bangga.
Untuk itu ia tak tanggung-tanggung dalam bisnis kuliner ini. Semua bahan baku bakso sengaja didatangkan dari Surabaya yang merupakan pusat Bakso Kepala Sapi. “Semua bahan baku bakso di sini saya order langsung dari Surabaya. Jadi di sini hanya menyajikan saja,” tuturnya membuka rahasia.
Hal yang sama juga ia terapkan untuk para pekerja. Meski ia merekrut orang-orang yang berdomisili di sekitar warungnya sebagai pekerja, namun ia menerapkan standar tinggi kepada para pekerjanya. “Saya datangkan trainer dari Surabaya yang memang ahli dan kebetulan orang-orang dari Bakso Kepala Sapi itu sendiri, jadi pekerja saya bisa lebih profesional dan memuaskan semua pengunjung yang datang” ujarnya antusias.
Jari telunjuk Didit kemudian menunjuk dua menu yang terpajang. Bakso Reguler dan Bakso Ekstra Reguler yang menjadi menu favorit di warungnya. Dua menu itu menjadikan banyaknya pengunjung datang menyantap baksonya. Dalam sehari, warung Bakso Kepala Sapi milik Didit mampu menjual kurang lebih seratus hingga dua ratus porsi per hari. Bahkan mampu mencapai tiga ratus porsi di hari libur dan akhir pekan. Kisaran omsetnya mencapai Rp 3 Juta per hari. “Lumayanlah keuntungannya,” ujarnya tersenyum.
Meski demikian Didit terus berupaya mempromosikan Bakso Kepala Sapinya kepada warga Samarinda. Termasuk menyebarkan brosur-brosur promosi telah pula dilakoninya. Terlebih lagi harga bakso yang ditawarkannya tergolong murah dan dijamin tak menguras kantong. Untuk satu porsi Bakso Tulang Muda bisa ditebus dengan harga Rp 7.500. Sedangkan porsi termahal hanya dihargai Rp 17.500.
“Yang jelas, saya akan terus mempromosikan Bakso Kepala Sapi ini kepada seluruh warga Samarinda. Saya yakin lambat laun masyarakat Samarinda akan menyukai bakso ini,” ujar Didit penuh semangat. Jadi, anda tak perlu enggan untuk datang dan menikmati kelezatan bakso di warung Bakso Kepala Sapi milik Didit.

Posted: 26 Juli 2011 in Uncategorized
Tag:

KOMUNITAS

Posted: 26 Juli 2011 in Uncategorized
Tag:

HMC BALIKPAPAN MAMPIR DI KANTOR REDAKSI MAJALAH BORNEO

Tidak seperti biasanya, suasana kantor redaksi majalah Borneo News menjadi ramai. Banyak motor antik, klasik dan beberapa motor matic keluaran Honda parkir di halaman kantor. Bukan mau berdemo, namun ini kunjungan dari anggota klub motor Honda Motor Club atau HMC Balikpapan. Mereka menyempatkan diri untuk berkunjung ke kantor redaksi majalah Borneo News setelah menghadiri acara deklarasi CB Kaltim yang diadakan di Polder Air Hitam Samarinda pada tanggal 26 Juni 2011 lalu. Kedatangan HMC disambut hangat oleh keluarga besar majalah Borneo News yang diwakili Pemimpin Redaksi, Amir Hamzah. “Kami sambut gembira kunjungan ini dan terima kasih. Kami tunggu kunjungan berikutnya,” sambut Amir dengan mata berbinar.

Sekilas Mengenai HMC BALIKPAPAN

HMC Balikpapan merupakan singkatan dari Honda Motor Club Balikpapan. Didirikan pada tanggal 17 April 2009 dikarenakan persamaan hobi para anggota klub yakni Touring. Di klub HMC Balikpapan ini tak hanya pemilik satu jenis motor saja yang bergabung, namun terdapat berbagai macam jenis motor dengan merk Honda. Namun sebagian besar anggota merupakan pemilik motor CB.
Saat ini anggota klub motor HMC Balikpapan sudah berjumlah 50 orang. Klub yang di ketuai oleh Khusnul Mubarok ini setiap minggunya melakukan kegiatan. Mereka secara rutin melakukan touring ke berbagai daerah untuk menghadiri undangan acara ataupun hanya sekadar berkunjung untuk sekedar menjalin tali silaturahmi dengan klub motor lain yang ada di Indonesia. “ Saya berharap agar kekompakkan antar anggota klub bisa makin terjalin,” terang Khusnul Mubarok yang akrab disapa Mas Barok ini.
Solidaritas dan kekeluargaan yang menjadi moto utama klub HMC Balikpapan, menjadi dasar bagi anggota klub ini untuk terus mengembangkan tali silaturahmi yang terbukti dengan sambutan hangat dan bersahabat dari klub-klub motor lain di setiap mereka melakukan kegiatan touring. Sehingga pun HMC Balikpapan yang bermarkas di Kampong Timur Balikpapan ini juga sering mendapat kunjungan klub-klub motor yang lain. Tak hanya yang ada di Balikpapan saja, namun ada juga klub motor yang berasal dari luar kota pun turut berkunjung ke markas HMC Balikpapan untuk bersilaturahmi.
Klub motor ini menunjuk Wakil Walikota Balikpapan, Heru Bambang sebagai Dewean Pembina mereka. Yang tentunya bukanlah tugas yang mudah bagi Dewan Pembina untuk menjaga kerukunan dan kekompakan bersama anggotanya. “Jadi disini kita dituntut bagaimana cara menyatukan perbedaan ini menjadi satu kesatuan yang kokoh untuk membina pondasi yang kuat untuk menopang kalangsungan klub kedepannya,” terang Mas Barok.
Di akhir kunjungannya di kantor redaksi Majalah Borneo News, Mas Barok mengajak klub-klub motor lain untuk berkunjung ataupun ingin bergabung dengan klub ini. “Kami persilakan untuk datang atau berkunjung ke Sekretariat kami di Kampong Timur Balikpapan,” kata Mas Barok dengan nada mengundang.

Human Interest

Posted: 26 Juli 2011 in Uncategorized
Tag:

BOCAH-BOCAH LAMPU MERAH BERJUANG DEMI KELUARGA

Adalah Rahmat (7 tahun), Adi (8 tahun) dan Surya (11 tahun). Mereka bukanlah kawan satu sekolah, namun tiga serangkai ini adalah penjaja koran yang selalu mangkal di Simpang Empat jalan Basuki Rahmat Kota Samarinda Kalimantan Timur.

Naskah & Foto : Hary Firmanto

Ketiganya tampak lusuh. Pakaian yang mereka kenakan pun terlihat seadanya. Seperti Surya yang hari itu hanya mengenakan kaos oblong sudah tak jelas warna aslinya dan celana pendek yang tak kalah kumalnya. Juga dengan sepasang sandal jepit tua. Keringat bercampur debu yang menempel di wajahnya membuat wajahnya tampak semakin hitam kecoklatan seperti gambaran keprihatinan hidup yang dijalaninya.
Kondisi ini tak jauh berbeda dengan kedua rekannya Rahmat dan Adi. Keduanya juga tampak lusuh dengan beberapa ekslempar koran harian pagi di tangan mereka. Koran yang ada ditangan mereka itu nampak lebih penting dari sekedar membersihkan wajah dan kaki mereka yang semakin kusam oleh keringat dan debu yang menyelimuti tubuh mereka.
Ketiga serangkai ini jelas tak bersekolah karena sejak pagi hari sudah berada di Simpang Empat yang padat dengan kendaraan yang melintas itu. “Saya enggak sekolah, karena enggak punya uang. Uang yang saya dapat dari jualan nggak cukup buat makan apalagi buat bayar sekolah,” kata Rahmat memberi alasan.

Meski pemerintah telah membebaskan biaya sekolah, Rahmat, Adi dan Surya tetap tak mampu bersekolah. Harapan kelangsungan hidup keluarganya ikut menjadi tanggung jawab anak-anak ini. Rahmat menyebut, pekerjaan menjaja Koran ini terpaksa harus dijalani semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi orang tuanya hanya pengumpul kardus bekas, sudah barang tentu tak akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhannya jika ia bersekolah.
“Bapak saya kerjanya cuma mengumpulkan kardus bekas, kata ibu uangnya gak cukup untuk beli makan jadi saya membantunya dengan jualan Koran,” kata Rahmat menceritakan kisah hidupnya.
Tentu saja itu pilihan yang teramat sulit bagi anak seusianya. Sebab di usia dini seperti itu ia harus menghadapi hidup dengan penuh resiko. Padahal hasil yang ia dapatkan tak lebih dari Rp 7.500, bahkan seringkali kurang dari itu meskipun ia telah menjajakan koran sejak pagi hingga malam hari.
Harapan untuk sekolah memang tak lantas padam. Seperti yang dinyatakan Surya, namun kerasnya tembok kemiskinan kembali menjadi penghalang cita-cita mereka. “Kepinginnya ya bisa sekolah, tapi sekolah juga butuh makan, terus kami makan apa jika tak kerja,” tegas Surya yang berusia lebih tua diantara tiga serangkai.

Hak Dasar Bersekolah versus Kemiskinan

Berdasar penelitian Organisasi Buruh Internasional (ILO) ada sekitar 4,18 juta anak usia sekolah di Indonesia putus sekolah dan jadi pekerja anak, 19 persen anak-anak di bawah 15 tahun tak bersekolah dan terpaksa bekerja. Survei yang dilakukan ILO ini mencakup 1.200 keluarga di lima provinsi, yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.
Sedangkan dari data Badan Pusat Statistik, di Kaltim sendiri pada tahun 2009, persentase pekerja anak di usia 10 – 17 tahun mencapai 5,83 persen dari jumlah penduduk yang bekerja atau sejumlah 77.152 anak. Sementara jumlah anak tak bersekolah di jenjang Sekolah Dasar mencapai 5.635 anak dan meningkat untuk jenjang SLTP dengan jumlah 15.291 anak dan semakin meningkat untuk jenjang SLTA yang mencapai jumlah 64.458 anak.
Jika dilihat dari nilai rata-rata kehidupan layak di Provinsi ini yang mencapai Rp 1.664.100, jumlahnya sangat berbanding jauh dengan angka kemiskinan yang dipatok pada pendapatan Rp 285.218 per bulan sehingga jumlah penduduk miskin bertambah setiap tahunnya yang pada bulan Mei 2010 mencapai 243.000 orang.
Tentunya hal ini menjadi keprihatinan kita, ketika Program wajib belajar 12 tahun yang dicanangkan Gubernur Awang Faroek Ishak belum mampu mengurangi angka anak putus sekolah yang meningkat dari 0,68 persen di tahun 2008 menjadi 0,88 persen di tahun 2009.
Kini nasib Rahmat, Adi dan Surya tergantung pada kemiskinan keluarga mereka di tengah kayanya provinsi dengan APBD mencapai Rp 7,2 Triliun. Sebab dibutuhkan tenaga besar untuk mendobrak dinding kemiskinan seperti yang tampak hari itu tatkala mereka harus tetap berjuang saat hujan deras mengguyur menggantikan terik panas siang itu. Dengan berlindung di balik plastik usang yang dibuat menyerupai jaket, rutinitas menjaja koran pun mereka lanjutkan untuk menambah uang belanja keluarga. Tak lama, dua bibir dari tiga serangkai itu mulai memucat. Tapi mereka tetap asyik bermandikan hujan dan menunjukkan tekad mereka untuk berjuang melawan kemiskinan dengan menawarkan koran di tangan mereka kepada setiap pengendara yang tertahan traffic light.

Kalau saja pemerintah mau menganggap anak-anak miskin ini adalah anak mereka sendiri, maka paling tidak “masa emas” pendidikan anak-anak itu tidak akan hilang begitu saja.
Padahal di Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 1 ayat 2 dan pasal 9 ayat 1 tentang Perlindungan Anak, dijelaskan tentang kegiatan perlindungan anak dan hak mereka mendapatkan pendidikan sebagai kewajiban dari pemerintah. Demikian juga hasil Konvensi Hak-hak Anak secara jelas menyebutkan negara peratifikasi harus berupaya semaksimal mungkin melindungi kehidupan dan tumbuh kembang anak. Jika tidak, berarti telah terjadi “state neglect” (penelantaran) terhadap hak-hak dasar anak.
Rahmat, Adi dan Surya serta anak-anak lainnya di berbagai simpang jalan kota Samarinda serta daerah lainnya di Kalimantan Timur, dapat menjadi generasi yang tidak memiliki pendidikan hanya karena orang tuanya tidak mampu membiayai mereka untuk bersekolah. Yang muara persoalan bukan pada kemiskinan semata, tetapi pada kepedulian pemerintah tentang hak-hak anak yang luput dari pengawasan. Sampai kapankah kita tega melihat anak-anak ini berjualan koran demi menambah biaya hidup keluarganya sementara anak-anak lainnya dengan riang menikmati pendidikan gratis padahal orang tua mereka berkecukupan.

MUzic

Posted: 26 Juli 2011 in Uncategorized
Tag:

Musik: Seni, Idealisme dan bisnis

    Musik berasal dari kata muse. Sebutan bagi kelompok dewi-dewi keturunan dari dewa zeus dan mnemosine, yang melambangkan seni. Mereka dianggap sebagai sumber ilmu pengetahuan dan inspirasi seni dalam mitologi Yunani.
    Musik adalah salah satu cabang seni yang memiliki pelaku maupun penikmat paling banyak di masyarakat. Semua lapisan masyarakat tidak pernah lepas dari musik dalam kehidupannya. Baik yang hanya berkaraoke ria dalam kamar mandi, sampai yang rela merogoh kocek lebih dalam agar dapat menonton konser musisi idolanya secara langsung.
    Seiring perkembangan jaman, musik pun berevolusi. Bukan hanya sekedar bunyi-bunyian indah untuk dinikmati di kala senggang atau sebagai media puji-pujian bagi sang Pencipta. Musik, dalam perkembangannya ternyata berkembang menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Banyaknya label-label rekaman, baik major atau indie label serta musisi-musisi baru yang bermunculan menjadi indikator kuat bagi para penggiat bisnis. Dan hampir setiap pagi hai kita bisa menyaksikan acara-acara musik di stasiun-stasiun televisi.
    Bahkan saat industri musik Indonesia terpuruk pada awal tahun 2000-an, akibat dari gempuran kaset dan CD bajakan serta internet yang menyediakan jasa unduh lagu secara gratis, para pelaku bisnis musik masih bisa meraup keuntungan dari ringback tone service atau nada sambung yang berasimilasi dengan operator selular.
    Bagiamana dengan para musisinya sendiri? Apakah musik dapat menjadi mata pencaharian yang menjanjikan?
    Krisna, gitaris, drummer, serta founder dari borneocoustic band mengutarakan pendapatnya. Menurut pria yang pertama kali menginjakan kaki ke samarinda pada tahun 1999 ini, para pekerja musik, khususnya musisi café seperti band borneocoustic harus memiliki mata pencahariaan sampingan. Selain karena persaingan yang ketat, faktor umur juga sedikit banyak mempengaruhi.
    “Yah, umur juga berpengaruh lah. Nggak selamanya juga kita bisa eksis. Mungkin nanti ada yang lebih muda, lebih fresh, atau lebih murah harganya. Tapi kalau buat saya ada harga ada kualitas” ujarnya.
    Soal idealisme dalam berkarya, beliau punya jawaban tersendiri.
    “Kalau kita, karena sudah berkeluarga dan sudah punya tanggungan masing-masing, jadi sudah nggak berpikir lagi ke arah situ. Sudah nggak ada pikiran untuk berkarya , bikin rekaman dan terkenal. Karena pada dasarnya kita bermusik untuk mencari nafkah bukan untuk ketenaran. Kalau buat yang begituan, biar yang muda-muda aja lah” ungkap pria plontos ini.
    Idealisme dan bisnis ibarat air dan minyak dalam industri musik. Jarang musisi yang bisa meraih kesuksesan secara materi tanpa mengorbankan sisi idealisnya. Tapi, ada juga musisi yang tidak memperdulikan bisnis atau materi. Bagi mereka musik adalah kepuasan pribadi yang tak dapat dibeli oleh uang.
    Tak jarang juga musisi yang memiliki kualitas bagus tapi tak sukses dalam industri musik. Selera pasarlah yang menentukan meskipun beberapa musisi yang sukses dalam musik tak memiliki kualitas yang mumpuni.
    Borneocoustic sendiri terbentuk pada 11 November 2007. Band yang beranggotakan krisna (gitar/drum), Ijul (bass/vokal), yeyen (gitar), Inu (vokal), Nouna (vokal) dan Nida (keyboard) ini adalah band top 40 spesialis café dan wedding party. Personilnya yang memiliki umur yang berbeda-beda menjadi keuntungan tersendiri bagi mereka.
    “karena personil kita ada yang muda ada yang tua, pembendaharaan lagu-lagu kita sangat luas. Mulai yang sedang ngetren sampai yang oldies, jadinya seimbang lah” kata Krisna lagi.
    Mengenai perkembangan musik di Samarinda sendiri beliau berpendapat bahwa musisi-musisi di Samarinda sebenarnya cukup bagus, hanya yang kurang adalah media bagi mereka untuk unjuk gigi.
    Selain para musisi yang berperan sebagai performer, ada juga mereka yang bekerja dibalik layar. Seperti para sound engineer, arranger musik, ataupun guru musik.
    Desy aryani muchtar (23), mantan supervisor di label rekaman PT.karyakarismha yang berbasis di Jakarta ni mengutarakan pendapatnya mengenai para pelaku industri musik di balik layar ini.
    “kalau di industri label sebagai supervisor sih profesi ini lumayan menjanjikan, karena kita membawahi beberapa divisi di suatu label rekaman. Kalau arranger music dan music director beda lagi, biasanya bayarannya per lagu dan biasanya dua profesi ini dijalankan oleh satu orang yang sama” ujarnya.
    Sedangkan mengenai masalah idalisme dalam bisnis musik, wanita muda talented ini memiliki pandangannya sendiri.
    “Kalau buat kita ya namanya juga bisnis ya harus ada profitnya. Kadang ada musisis yang terlalu idealis hingga musiknya nggak terlalu diterima dimasyarakat. Tapi ada juga idealis yang bisa diterima di masyarakat, contohnya sandhy sondoro atau dance company. Musik mereka unik dan nggak pasaran. Tapi masih bisa diterima telinga orang Indonesia, yang seperi itu masih bisa kita terima” tambahnya
    Sementara menurut mantan instruktur vokal di ebony music school samarinda ini, prospek bisnis label musik di Samarinda sendiri kurang menjanjikan.
    “Di samarinda agak susah kalau mau bisnis label musik, selain scene musik disini yang nggak terlalu berkembang. Semua musisisi atau band yang berniat masuk ke industri musik nasional pasti harus ke Jakarta, karena disitu pusat industri musik Indonesia. Kecuali kalau mau buka studio rekaman disini, prospeknya lumayan soalnya anak-anak band samarinda banyak yang punya lagu sendiri. Kadang mereka bikin demo atau mini album” Tutupnya

    Borneocoustic contact : 081347555999 (khrisna)
    20d1d1eb (pin BB)

Gadget

Posted: 26 Juli 2011 in Uncategorized
Tag:


LAPTOP MURAH, BERESIKO?

Jenisnya yang beragam dan harganya yang kian terjangkau membuat laptop semakin diminati. Namun tahukah Anda resiko penggunaan laptop bagi Anda?

Naskah & Foto : Dedi


Laptop kini telah menjadi kebutuhan penting dalam aktivitas manusia. Sehingga memunculkan beragam tipe laptop dipasaran. Mulai dari tipe tablet pc, notebook, hingga laptop. Dan hal ini diiringi dengan semakin suburnya bisnis penjualan laptop.
Di Samarinda sendiri telah bermunculan puluhan toko yang menjual laptop. Satu di antaranya adalah Delta.com, yang terletak di Jalan Agus Salim Samarinda. Di toko ini, harga jual laptop pun bervariasi mulai harga terendah Rp 3 Juta hingga belasan juta rupiah. Semua, tergantung dari kualitas dan spesifikasi yang diinginkan. Laptop dari produsen sekelas Acer, Axioo, Compaq, Toshiba, Samsung dan sebagainya dijual disini.
Di toko ini, dalam sebulan seorang Sales mampu mencatatkan penjualan 80 unit laptop dari berbagai jenis. Ternyata laptop merk Acer mendominasi penjualan. “Karena harganya yang terhitung murah, perangkat yang digunakan dan kualitasnya sangat baik. Selain itu seluruh kualitas dari laptop sebenarnya hampir setara namun sangat tergantung bagaimana seseorang itu memungsikannya sesuai pemakaian yang benar,” tutur Endang Arum Manager Pemasaran Delta.com.
Menurut Arum, hal yang juga mendorong penjualan adalah karena pihaknya membekali Sales mereka dengan pengetahuan seputar laptop yang mereka jual. Tujuannya adalah untuk memudahkan calon pelanggan mendapatkan informasi tentang fungsi dan kegunaan laptop yang akan dibelinya. Dengan begitu pelanggan dapat segera menjatuhkan pilihan sesuai kebutuhan dan kemampuan keuangan yang dimiliki.
Saat ini produsen laptop seperti Axioo telah memproduksi laptop murah dengan harga jual yang berkisar Rp 2 Jutaan, harga yang lebih rendah darisatu unit CPU. Selain itu laptop dapat dengan mudah dibawa kemana-mana dan hemat listrik karena hanya butuh daya 20 – 90 watt saja serta dapat menggunakan baterai sebagai sumber tenaga cadangan. Sehingga dengan kecenderungan ini sebagian besar konsumen lebih memilih laptop ketimbang CPU.

Membuat Impoten

Namun begitu, bagi Anda pengguna laptop, hendaknya berhati-hati. Sebab, penggunaan laptop yang salah dan berlebihan bisa menyebabkan impoten alias “make impotence”. Penelitian tentang dampak laptop terhadap organ reproduksi manusia ini telah dilakukan oleh Yefim Sheynkin, Michael Jung, Peter Yoo, David Schulsinger dan Eugene Komaroff dari Department of Urology and General Clinical Research Center, State University of New York, USA.
Dalam bukunya yang berjudul “Increase in scrotal temperature in laptop computer users” di tahun 2005, mereka menyebutkan penggunaan laptop yang berlebihan berdampak mengurangi tingkat kesuburan organ reproduksi bagi banyak orang.
Laptop sebagai peralatan elektronik memancarkan radiasi dan panas. Sedangkan orang yang memakai laptop biasanya menaruh laptop dipangkuan paha mereka. Nah, ini akan meningkatkan suhu scrotum (kantung testikel).
Bila suhu testikel meningkat sebesar 1 derajat Celcius dapat mengurangi kadar sperma hingga 40%. Dalam pengamatan mereka, ternyata pengguna laptop bisa mengalami peningkatan suhu scrotum 2,6oC hingga 2,8 oC tergantung dari frekuensi penggunaan dan orang pengguna itu sendiri.
Seperti diketahui sperma itu dihasilkan di testikel yang berada dalam scrotum ini. Hal ini bisa mengurangi secara drastis kadar sperma dan tentunya impotensi. Selain itu heat eksposure ini juga bisa menyabkan kondisi abnormal sperma seperti oligoasthenoteratozoospermia.

Tips Aman Menggunakan Laptop
Ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi dampak radiasi dan panas yang dihasilkan dari sebuah laptop. Awali dengan menggunakan Filter Layar pada layar laptop Anda, sebab Filter Layar ini dapat mengurangi intensitas cahaya yang dihasilkan layar laptop dan meminimalisir pantulan cahaya yang seringkali terjadi pada permukaan layar laptop sehingga mata anda dapat lebih sering berkedip. Selain itu janganlah meletakan laptop yang sedang bekerja di pangkuan Anda, letakkan laptop di atas bidang datar seperti meja atau kalau perlu letakan di atas tatakan kipas agar panas yang dihasilkan oleh laptop yang sedang beroperasi dapat diminimalisir. Perlu diperhatikan juga saat sibuk dengan laptop Anda, jangan lupa untuk sering beristirahat, agar kaku pada otot leher maupun bagian badan lainnya dapat terhindarkan. Setidaknya Anda harus beristirahat setiap 30 menit. Yang tak kurang pentingnya yakni gunakan tas punggung yang nyaman saat Anda harus membawa laptop beserta Anda. Yakinkan punggung dan bahu Anda tak mendapat beban yang berlebihan sehingga terhindar dari rasa sakit. Nah, saatnya kini

AGRO BISNIS

Posted: 26 Juli 2011 in Uncategorized
Tag:

JAMUR KIAN MENJAMUR

Penampilannya putih bersih dan mulus, serta memiliki rasa yang enak, seenak daging ayam. Lebih hebat lagi, dengan kandungan gizinya yang tinggi, ia mampu menghancurkan sel kanker.

Naskah & Foto: Bahron Ansori

Erika Decia Warman, gadis cantik lulusan Magister Ilmu Kehutanan Universitas Mulawarman ini, tampil sebagai salah satu pembudidaya jamur tiram di Samarinda Kalimantan Timur. Di sela-sela kesibukannya bekerja di kantor, Erika, begitu sapaan akrabnya masih menyempatkan waktu untuk membudidayakan jamur tiram sekaligus menjadi pelatih budidaya jamur tiram bagi siapa saja yang ingin menjadikannya sebagai prospek usaha.
“Saya bersyukur, karena bisa mengembangkan jamur tiram putih ini. Apalagi kebutuhan masyarakat lokal terkait kebutuhan gizi sangat diperlukan. Selain mudah dikembangkan, usaha jamur tiram tidak membutuhkan modal terlalu besar,” ungkap Erika.
Hal dasar yang menjadikan daya tarik jamur tiram untuk dibudidayakan di antaranya mudahnya cara budidaya, harga jual yang stabil serta permintaan yang terus meningkat.
Karenanya Erika sangat setuju jika usaha budidaya jamur tiram sangat menguntungkan selain manfaat lainnya sebagai obat untuk menghancurkan sel kanker bila dikonsumsi secara rutin. Juga tingginya kadar protein menjadikan jamur tiram sebagai bahan makanan yang diincar banyak orang.
Jamur tiram juga banyak dicari konsumen vegetarian, mereka menjadikannya sebagai lauk pengganti daging. Dan dapat dimasak sebagai sup maupun dipepes.
Selain konsumen dari rumahan, jamur tiram juga banyak dicari para pemilik restoran maupun usaha kuliner lainnya sebagai bahan utama menu yang akan di hidangkan. “Karena tidak semua pengusaha kuliner jamur membudidayakan jamur tiram secara langsung. Keterbatasan lahan membuat mereka lebih memilih untuk mencari pemasok jamur tiram,” jelas Erika sambil tersenyum.

Mengenal Jamur Tiram
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii dan sering dikenal dengan sebutan King Oyster Mushroom.
Tubuh buah jamur tiram memiliki tangkai yang tumbuh menyamping (bahasa Latin: pleurotus) dan bentuknya seperti tiram (ostreatus) sehingga jamur tiram mempunyai nama binomial Pleurotus ostreatus. Bagian tudung dari jamur tersebut berubah warna dari hitam, abu-abu, coklat, hingga putih, dengan permukaan yang hampir licin, diameter 5 – 20 cm yang bertepi tudung mulus sedikit berlekuk. Selain itu, jamur tiram juga memiliki spora berbentuk batang berukuran 8-11 × 3-4 μm serta miselia berwarna putih yang bisa tumbuh dengan cepat.
Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang karena jamur tiram adalah salah satu jenis jamur kayu. Karena itu, saat ingin membudidayakan jamur ini, substrat yang dibuat harus memperhatikan habitat alaminya. Media yang umum dipakai untuk membiakkan jamur tiram adalah serbuk gergaji kayu yang merupakan limbah dari penggergajian kayu. Jerami dapat juga digunakan sebagai media tanam, lebih baik lagi jika menggunakan jerami yang keras. Jerami dicampur dengan air, dedak 10% dan kapur 1%.
“Media yang terbuat dari campuran bahan itu perlu diatur kadar airnya. Kadar air diatur 60 – 65 % dengan menambah air bersih agar misellia jamur dapat tumbuh dan menyerap makanan dari media tanam dengan baik,” terang Erika sambil menunjukkan jamur-jamur yang sudah mulai tumbuh. Bisa pula dengan menggunakan media tanam serbuk gergaji steril yang dikemas dalam kantung plastik.
Selain itu, sinar matahari sangat dibutuhkan pada masa pertumbuhan, namun jamur tiram akan lebih cepat tumbuh di tempat terlindung dengan intensitas penyinaran 60 – 70 %.

Kandungan gizi
Berdasarkan penelitian Sunan Pongsamart, dari Faculty of Pharmaceutical Universitas Chulalongkorn Thailand, jamur tiram mengandung protein, air, kalori, karbohidrat, dan sisanya berupa serat zat besi, kalsium, vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C.
Kandungan nutrisi setiap 100 gram jamur tiram adalah kalori senilai 367, untuk proteinnya 10,5 – 30,4 % sedangkan karbohidrat mencapai 56,6 % dan kadar lemak 1,7 – 2,2 %.
“Kalori yang dikandung jamur ini adalah 100 kj / 100 gram dengan 72 persen lemak tak jenuh. Serat jamur sangat baik untuk pencernaan. Kandungan seratnya mencapai 7,4 – 24,6 % sehingga cocok untuk para pelaku diet,” papar Erika.
Sedangkan dari data Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian, jamur tiram mengandung protein rata-rata 3,5 – 4 % dari berat basah. Berarti dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan asparagus dan kubis. Jika dihitung berat kering, kandungan proteinnya 10,5 – 30,4 %, lebih tinggi dari beras dan gandum. Sementara itu kandungan 72 % lemak dalam jamur tiram adalah asam lemak tidak jenuh sehingga aman dikonsumsi oleh penderita kelebihan kolesterol (hiperkolesterol) maupun gangguan metabolisme lipid lainnya. Adanya kandungan semacam polisakarida kitin di dalam jamur tiram ditenggarai menimbulkan rasa enak. Selain itu mineral mikroelemen yang bersifat logam dalam jarum tiram kandungannya rendah, sehingga jamur ini aman dikonsumsi setiap hari.

Manfaat Kesehatan dan Ekonomi
Dari segi kesehatan, jamur tiram yang dikonsumsi sebagai bahan makanan memiliki berbagai manfaat seperti menurunkan kolesterol, sebagai antibakterial dan antitumor, serta dapat menghasilkan enzim hidrolisis dan enzim oksidasi. Jamur ini juga dipercaya mempunyai khasiat obat untuk berbagai penyakit seperti penyakit lever, diabetes dan anemia serta mampu membantu penurunan berat badan karena berserat tinggi dan membantu pencernaan.
Dari sisi ekonomi, harga jual jamur tiram di pasaran pun tergolong menunjukkan nilai tinggi. Untuk ukuran pasar tradisional, per 300 gram nya dapat mencapai Rp 12.500. Sedangkan harga untuk kelas supermarket dapat lebih tinggi, yaitu Rp 22.000 per 300 gram.
Modal awal yang digunakan untuk berbudidaya jamur tiram berkisar Rp 15 Juta untuk pembuatan kumbung serta rak-rak kayu yang menampung 5.000 baglog dan pembelian media baglog beserta bibit jamur tiramnya. Dalam 20 hari, dapat memanen jamur tiram dengan berat mencapai 100 kilogram. Namun jika tak memiliki modal besar, untuk memulai usaha pembiakan jamur tiram skala kecil dapat dimulai cukup di kamar mandi.
Biasanya usaha pembiakan jamur tiram juga dibarengi dengan menjual benih jamur berikut baglog. Dalam sebulan keuntungan bersihnya dapat meningkat 80 %, dengan kisaran per bulannya dapat mencapai Rp 3 Jutaan. Anda berminat mencobanya?


PANG PAGA,
TARIAN PENGUSIR HAMA PADI

Siang itu, udara terasa begitu panas. Namun tim Borneo News yang mengendarai motor honda matic terus melaju dengan kecepatan tinggi. Kali ini, yang dituju adalah Desa Pampang. Salah satu desa budaya Benua Etam yang hingga kini masih terus di jaga dan dipertahankan.

Naskah & foto : Bahron & Hary F

Kaltim, bukan hanya kaya sumber daya alam. Tapi juga kaya akan budaya. Di negeri yang penduduknya tak lebih dari 3,7 juta jiwa dan sebagian besar datang dari berbagai penjuru ini, hingga kini masih melestarikan budaya asli warisan leluhur. Salah satu tempat budaya yang masih terpelihara dengan baik hingga kini ada di Desa Budaya Pampang.

Jika Anda ingin mengunjungi Desa Pampang, maka datanglah pada hari Minggu. Dari KRUS, jaraknya hanya 20 kilom meter saja. Di tempat itu, setiap hari Minggu dilangsungkan upacara adat dari salah satu suku dayak, Dayak Kenyah. Upacara yang dimulai pukul 8 pagi itu, akan dilanjutkan dengan menampilkan hiburan berupa tarian-tarian adat yang cukup menarik perhatian pengunjung.

Menarik, karena tarian-tarian itu dibawakan oleh para garis belia yang cantik dan berkulit putih. Sambil diiringi alunan musik, para gadis muda itu menari dengan tangan diliuk-liukkan lemah gemulai, serempak dan senyum terlihat di bibir menghibur pengunjung.

Bagi pengunjung yang ingin masuk ke lokasi pertunjukan dan menyaksikan tarian-tarian yang ditampilkan di panggung Balai Lamin secara langsung, maka Anda akan dikenakan biaya masuk dua kali. Pertama, biaya saat masuk pintu gerbang dimana lokasi Balai Lamin berada sebesar 20 ribu rupiah. Biaya ini tentu sudah termasuk tempat parkir yang luas tepat berada di depan panggung Balai Lamin.

Selanjutnya, jika Anda sudah sampai lokasi Balai Lamin dan ingin naik ke atas panggung untuk menyaksikan langsung berbagai tarian yang ditampilkan, maka pengunjung harus diminta uang tiket sebesar 25 ribu rupiah per orang. Biaya ini tentu tidak mahal, sebab bila sudah sampai di atas, pengunjung akan mendapatkan kepuasan tersendiri karena sudah bisa menyaksikan tarian-tarian indah budaya dayak secara langsung.

Ada pun jarak antara gerbang pertama ke Balai Lamin kurang lebih 10 meter saja. Karena itu, pengunjung tak harus susah payah mendatangi tempat pertunjukan tari. Selain itu, mereka juga tak perlu khawatir terhadap kendaraan yang dibawa sebab masih bisa dilihat dari atas panggung.

Balai Lamin adalah sebuah panggung adat yang sebagian besar bangunannya terbuat dari kayu ulin (kayu terkeras di Kalimantan). Di panggung adat itulah semua kegiatan setiap hari Minggu dilakukan. Balai Lamin mempunyai panjang sekitar 60 meter dengan lebar sekitar 9-10 meter.

Dalam ruangan besar itu terdapat susunan bangku untuk para pengunjung yang akan menikmati tarian yang disuguhkan. Dengan begitu, pengunjung bisa duduk manis tanpa harus berdiri menyaksikan pertunjukan tari.

Sementara, di tempat lain di atas panggung itu terdapat pula tempat bagi para pedagang untuk menjual barang-barang dagangannya berupa manik-manik, dan berbagai perhiasan indah lain hasil kreatifitas warga Desa Budaya Pampang.

Aksesoris yang dijual pun beraneka ragam, ada Mandau senjata khas suku Dayak, ada gelang, kalung dan aneka aksesoris indah lain yang terbuat dari batu alam. ”Silahkan diliat-liat barangnya mas. Bagus-bagus ini,” kata salah satu penjual sembari tersenyum.

Layaknya sebuah acara, tarian-tarian itu ditampilkan satu per satu oleh pembawa acara. Di antara beberapa tarian yang ditampilkan antara lain; tarian Menyambut Tamu, tarian Tembung Tawai (Tarian Sejiwa / Tarian Sehati), Tarian Pang Paga (Tarian Ketangkasan) dan Tarian Leleng serta beberapa tarian lainnya yang tak bisa disebutkan satu per satu.

Tarian Menyambut Tamu misalnya, tarian itu sengaja ditampilkan karena untuk menyambut para pengunjung sebagai tamu yang datang. Tarian ini biasanya ditampilkan diawal acara, persis saat dimana para pengunjung sudah mulai berdatangan memenuhi Balai Lamin.

Tarian Menyambut Tamu ini diikuti sekitar delapan orang wanita. Sambil meliuk-liukkan tangannya, mereka tampil indah. Tak jarang, senyum manis tersembul di bibirnya. ”Benar-benar tarian yang indah,” celetuk salah satu pengunjungnya.

Satu dari sekian banyak tarian yang disuguhkan pada hari Minggu itu menurut pembawa acara yang paling disenangi oleh pengunjung dan menjadi pavorit biasanya tarian Pang Paga.

Tarian ini merupakan tarian yang membutuhkan ketangkasan bagi para penarinya. Mengapa ? Sebab tarian ini membutuhkan gerakan kaki yang cepat dan harus tepat saat mengangkatnya. Jika terlambat sedetik saja mengangkatnya, maka alu-alu yang terbuat dari kayu ulin itu akan menjepit kaki. Mau tahu rasanya dijepit alu dalam tarian Pang Paga ? Silahkan Anda mencoba uniknya tarian tersebut.

Menurut penjelasan dari pembawa acara, tarian Pang Paga ini adalah tarian yang ditujukan untuk mengusir hama padi seperti tikus dan burung pipit. ”Tarian ini (Pang Paga, red.) membutuhkan ketangkasan. Sebab bila terlambat sedikit saja mengangkat kaki, maka langsung terjepit oleh alu. Jadi, yang dijepit itu ibaratnya burung pipit atau hama padi lainnya,” katanya menjelaskan.

Pang Paga adalah tarian yang diikuti oleh sekitar delapan orang penari wanita. Saat akan memulai tarian ini, para penari datang ke tengah-tengah panggung dari sudut yang berlawanan. Setiap orang dari penari ini membawa alu yang dipegang tangan kanannya. Lalu, dengan serempak mereka menghentakkan alu tersebut ke lantai secara bersama-sama.

Uniknya tarian Pang Paga ini adalah karena pengunjung pun dipersilahkan tampil bagi yang ingin mencoba. Pengunjung yang mau mencoba biasanya akan dituntun oleh para penari agar menirukan gerakan-gerakannya. ”Jadi, Anda tak perlu khawatir mencobanya. Karena penari kami akan menuntun Anda,” kata pembawa acara menjelaskan.

Di Desa Budaya Pampang itu, Suku Dayak Kenyah secara rutin mengadakan acara atraksi kesenian tradisional. Biasanya, para pengunjung yang datang berkunjung ke Pampang bukan hanya warga Samarinda dan sekitarnya tapi juga turis-turis dari manca negara.

Biasanya, para pengunjung saat acara selesai minta berpose dengan para penari atau anak-anak dayak dan para orang tua warga setempat yang saat itu hadir dengan pakaian adatnya. ”Senang bisa berfoto-foto dengan warga di Pampang ini,” jelas Ira yang hadir bersama keluarganya Minggu itu.

Menurut Uyang Ajan (pengurus kesenian) mengatakan biasanya pada masa puasa pengunjung agak menurun, namun mendekati lebaran biasanya jumlah pengunjung akan naik drastis. ”Biasanya pada musim liburan pengunjung membludak,” katanya menjelaskan.

Begitula Desa Pampang. Desa yang pada Juni 1991, oleh Gubernur Kaltim saat itu HM Ardans diresmikan menjadi Desa Budaya. Pemerintah merasa sangat yakin desa budaya ini akan menjadi aset wisata unggulan baik di tingkat lokal bahkan mancanegara. Semoga.

Kecantikan

Posted: 26 Juli 2011 in Uncategorized
Tag:

TAMPIL GAYA,
SERAYA KUMPULKAN HARTA

Permintaan yang tinggi akan pakaian impor ini sangat menguntungkan bagi para “business-man” (kalangan pengusaha) yang berkiprah di bidang fashion. Apakah benar kesuksesan para pengusaha tersebut hanya datang dari para konsumen penggila fashion ?

Naskah & Foto: Chacha & Dedi.

Tampil cantik dengan berbagai aksesoris bling-bling yang dipadukan dengan pakaian mewah dan elegan, tentu menjadi impian bagi sebagian besar kaum hawa. Terutama bagi mereka para kaula muda. Apa lagi kalau pakaian dan aksesoris itu berasal dari luar negeri alias barang impor, tentu saja rasa percaya diri dan gengsi siapa pun yang mengenakannya akan melambung tinggi. Melihat hal tersebut, rupanya para entrepreneur yang berkiprah di bidang fashion ikut mengepakkan sayapnya.
Satu di antara sekian banyak pengusaha yang terjun di dunia ini (pakaian bekas, red.) bernama Bebby Agustin Hardani. Ibu satu anak yang tengah berkuliah di Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag), Jurusan psikologis ini rupanya pandai memanfaatkan keadaan. Saat mengetahui animo para kaum hawa yang sedang haus akan produk impor.
Semangatnya untuk membuka sebuah butik yang dikhususkan kepada kaum hawa pun ikut berkobar. “Aku dengar dari teman-teman dan aku lihat style cewek-cewek Samarinda sekarang, sepertinya suka banget impor dari luar negeri. Yang mereka pesen lewat internet itukan, nah kalau aku bisa sediakan yang ready stock kan pasti mereka akan lebih memilih untuk belanja di tempatku,” ujar Bebby yang ditemui oleh tim Borneo News di kediaman sekaligus butik pertamanya di Jalan Markisa No. 54, Samarinda.
Menurut pengakuan Bebby, semua barang dagangannya adalah produk luar negeri yang diimpornya langsung dari Singapura dan Korea. Tidak hanya itu, Bebby juga menyediakan barang-barang yang diordernya langsung dari Jakarta dan Batam. Untuk barang-barang sejenis dress dan atasan manis seperti kemeja, loose shirt dan aksesoris lucu dan lain-lain, didatangkannya dari Singapura dan Korea.
Sedangkan untuk barang-barang sejenis busana muslim dan sepatu, Bebby hanya mendatangkannya dari Jakarta dan Batam. “Barang-barangku kebanyakan dari Singapura dan Korea, tapi untuk baju muslim dan sepatu-sepatu itu, aku order dari Jakarta dan Batam aja,” aku Bebby seraya menunjukan barang dagangannya kepada tim Borneo News kala itu.
Terkait dengan harga, Bebby menganggap barang-barangnya adalah yang termurah. Karena menurut penuturannya, ia hanya mengambil sekitar sepuluh ribu rupiah hingga dua puluh ribu rupiah. “Aku cuma ambil untung sepuluh sampai dua puluh ribu rupiah aja sih, soalnya yang penting buat aku kan laris enggaknya barang aku. Besar kecilnya keuntunganku” tutur single parent cantik yang bermata indah ini.
Saat ditanya mengenai rencana Bebby ke depannya jika para penggila mode yang selama ini menjadi tambang emas terbesarnya. Bebby hanya menjawabnya dengan jawaban sederhana seraya tertawa selepasnya. “Namanya fashion itu nggak ada matinya, jadi nggak mungkin mereka menghilang begitu aja. Kecuali orang-orang itu sudah bosan pakai baju, dalam artian mereka udah nggak mau pakai busana apa pun lagi” jawab Bebby diikuti gelak tawa yang menggema di ruangan tamunya kala itu.
Berbeda dengan Vivi, seorang pemilik butik baju impor yang beralamat di Jalan A. Yani No. 26, Samarinda. Jika Bebby lebih mengutamakan laris tidaknya barang yang dijualnya, maka Vivi lebih mengutamakan besar kecilnya keuntungan yang akan diraupnya. “Aku ambil untung dari tiap barang ya paling rendah tujuh puluh sampai seratus lima puluh ribu rupiah lah” tutur dara manis berdarah Cina ini dengan gaya bicara yang amat sangat elegan.
Padahal jika dilihat dari kualitas dan tempat asal barang dagangannya. Butik milik Vivi ini tak ada bedanya dengan butik milik Bebby. Vivi mengaku, sebagian besar barang dagangannya diorder langsung dari Korea, namun ia juga mengorder barang dari Singapore. Untuk baju pesta dan dress-dress unik, Vivi mengordernya dari Korea.
Sedangkan untuk baju-baju untuk hangout dan bersantai, Vivi mengordernya hanya dari Singapore. “Kalau untuk dress yang unik-unik gini, aku order dari Korea, kan lucu tuh buat foto-foto,” ujarnya seraya tersenyum anggun dan menunjukan beberapa pakaian yang memang bermodel unik. “Nah kalau yang begini, aku order dari Singapore. Kan pas nih buat santai-santai atau buat hangout sama temen, sama pacar atau keluarga” tambahnya seraya kembali tersenyum dan menunjukan baju-baju sederhana yang kelihatannya memang nyaman saat dikenakan.
Saat ditanya mengenai faktor utama yang membuatnya membuka butik tersebut, ternyata alas an Vivi tak jauh beda dengan alas an yang dikemukakan oleh Bebby sebelumnya. Hanya saja, Vivi mengaku, ia ingin tampil gaya seraya mengumpulkan harta. “Kalau buka butik kan kita bisa tampil gaya sambil mengumpulkan harta” tukasnya sembari tertawa kecil.
Nampaknya fashion adalah sebuah objek penting dalam kehidupan sehari-hari, terbukti dengan jawaban Vivi yang tak jauh berbeda dengan jawaban Bebby saat ditanya mengenai rencananya ke depan jika para penggila mode yang selama ini menjadi sumber rezekinya menghilang. Vivi hanya tertawa kecil lantas mengatakan “Fashion ini nggak akan pernah kehilangan penggemar, namanya juga kebutuhan sehari-hari kan,” ujar Vivi seraya memainkan kuku-kuku indahnya yang berkutek warna-warni. “Fashion itu sama aja obat, nggak ada kan orang yang mutlak nggak membutuhkan obat? Begitu juga fashion” tambahnya seraya tersenyum lebar, memamerkan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi.
Tak dapat dipungkiri lagi, bisnis di bidang fashion memang sangat menguntungkan jika anda memang pandai menjalankannya. Jika anda pandai mempromosikan barang dagangan anda, maka keuntungan yang berlimpah akan datang menghampiri anda. “Kalau mau barang kita laris, ya kita pakai juga baju-baju dan aksesoris yang cocok sama kita. Orang kan pasti akan tertarik dan beli barang-barang kita jadinya” ujar Vivi menyarankan dengan nada lembutnya yang khas.

Wisata

Posted: 26 Juli 2011 in Uncategorized
Tag:

Festival Erau,
Perpaduan Tiga Ritual

Foto & naskah: Bahron, Isti, Hary, Caca, Dedi

Tradisi Erau yang berlangsung lebih dari seminggu di Kutai Kartanegara (Kukar) baru saja selesai beberapa waktu lalu. Sebagian besar masyarakat Kukar tumpah ruah dalam acara itu. Tidak ketinggalan warga pendatang pun turut bagian dalam memeriahkan pesta rakyat hingga selesai.
Erau merupakan acara rutin yang digelar setiap tahun. Menurut Azmidi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadis Budpar) Kukar yang juga merangkap sebagai sekretaris umum festival Erau mengatakan, sebenarnya Erau ini merupakan tradisi agama Hindu yang hingga kini terus dilestarikan. “Karena ini bagian dari sejarah dan budaya, maka harus dilestarikan,” jelasnya kepada media ini.
Bila menilik sejarahnya, Erau untuk pertama kali dilaksanakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun (baca Sejarah Erau). Sejak itu dan hingga kini Erau terus dibudayakan oleh seluruh masyarakat di Kukar dengan berbagai modifikasi. “Erau saat ini tentu berbeda dengan Erau masa lampau. Contohnya, jika dulu yang melaksanakan hanya orang-orang beragama Hindu. Tapi kini tradisi Erau secara Islam dan Kristen pun ada,” ungkap pria berjenggot putih itu.
Menurut Azmidi, Erau yang dilakukan ini mempunyai tiga kategori antara lain; Erau Adat Tepong Tawar, Erau Pergantian Tahta dan Erau Berdasarkan Niat. Menurutnya, masing-masing kategori Erau itu dilakukan dengan tujuan yang berbeda. Erau Adat Tepong Tawar misalnya, dilakukan dengan tujuan untuk bersih benua atau bersih dosa. “Maksudnya membersihkan diri dari dosa dan hal-hal yang bersifat ancam bagi negeri,” katanya memaparkan.
Sedang yang dimaksud dengan Erau Pergantian Tahta dilakukan di kesultanan saja. Pergantian tahta yang dimaksud adalah pengangkatan pangeran menjadi raja. Erau tipe ini hanya dilakukan oleh pihak kerajaan. Namun demikian, masyarakat awam boleh saja menyaksikan terutama saat ritual khusus sudah selesai dilakukan pihak kerajaan. “Seluruh kerabat kerajaan (kesultanan) turut hadir dalam acara itu,” kata Azmidi menjelaskan.
Adapun Erau berdasarkan niat adalah acara adat yang bisa dilakukan oleh masyarakat awam yang mempunyai kemampuan materi. Dalam acara Erau berdasarkan niat ini bisa diikuti oleh seluruh warga. “Acara ini dilakukan oleh warga biasa yang mempunyai ekonomi berkecukupan,” terangnya.
Kata Azmidi, Erau yang digelar setiap tahun di Kukar ini adalah Erau Tepong Tawar. Ia mengisahkan, Erau sudah dibudayakan oleh Suku Puak Kedong Lampong, suku pertama yang mendiami kota Tenggarong yang berdiri pada tahun 1782. “Sejak awal berdiri Kota Tenggarong, Erau sudah mulai dilestarikan,” ujarnya.
Menurut Azmidi, Erau merupakan tradisi yang melibatkan tiga ritual agama sekaligus; Hindu, Islam dan Kristen. “Ada benang merah antara Hindu dan Islam,” katanya. Ia menjelaskan, korelasi itu terlihat jelas dari silsilah raja-raja sejak Kudungga, Aswawarman, Mulawarman dan seterusnya hingga berubah menjadi kesultanan. Oleh sebab itu dia menambahkan bahwa yang menjadi unggulan Erau ini lebih kepada memperingati sejarah dan melestarikan tradisi.

Seperti ritual Erau di Kukar saat ini misalnya yang menggabungkan tiga ritual antara agama pagan (animisme), Hinduisme dan Islami. Meski ada tiga kepercayaan berbeda, namun pelaksanaan Erau tetap mempunyai tujuan yang satu yakni melestarikan tradisi nenek moyang. “Karena ini bagian dari budaya, maka harus dijaga,” tambah Azmidi.
Menurut Azmidi, setiap even yang digelar, pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit. Begitu juga Erau yang beberapa waktu lalu digelar di Kukar. Menurut Azmidi, seluruh biaya yang digunakan untuk melaksanakan pesta rakyat Erau Tepong Tawar ini murni dari rakyat. “Pakem tetap dari kesultanan, tapi biaya dari masyarakat,” katanya menjelaskan.
Secara lokal Kaltim menjadi target pengembangan budaya. Statemen pelestarian adat Erau menurut Azmidi merupakan satu-satunya yang ada di dunia. Karena tidak ada Erau di belahan bumi ini kecuali di Kukar
Kalimantan Timur. “Erau adalah satu-satunya yang ada di dunia,” kata Azmidi menerangkan sembari tersenyum.
Karena itu wajar jika festival Erau tahun ini bahkan tahun-tahun sebelumnya bisa mengundang banyak wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri. Namun demikian, Azmidi belum bisa memastikan berapa banyak wisatawan yang datang berkunjung ke pesta rakyat tersebut. “Kami tidak punya target berapa banyak wisatawan yang datang,” tegasnya.
Jika dilihat dari jumlah peserta yang memeriahkan Erau, maka tidak jauh berbeda dengan peringatan tahun-tahun sebelumnya. Menurut catatan pihak Azmidi, Erau tahun 2011 ini diikuti tidak kurang dari 10 ribu peserta. Jumlah tersebut menurut Azmidi tentu tidak bisa dipukul rata selama sekian hari pelaksanaannya, tapi bisa dilihat pada hari-hari tertentu saja, misalnya saat hari kedua dan terakhir. “Saat belimbur biasanya banyak sekali yang ikut,” terangnya.

Sejarah
ERAU adalah salah satu budaya Masyarakat Dayak yang ada di Propinsi Kalimantan Timur. Biasanya acara adat Erau ini diselenggarakan satu tahun sekali di Kabupaten Kutai Kartanegara (Tenggarong). Pada acara ini dihadiri oleh semua Suku Dayak yang ada di Pulau Kalimantan, termasuk Suku Dayak yang berada di wilayah Malaysia (Serawak dan Kucing).
Erau berasal dari bahasa Kutai, eroh yang artinya ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita. Suasana yang ramai, riuh rendah suara tersebut dalam arti: banyaknya kegiatan sekelompok orang yang mempunyai hajat dan mengandung makna baik bersifat sakral, ritual, maupun hiburan.
Berdasarkan cerita rakyat Kutai, di sebuah dusun bernama Dusun Jaitan Layar, tinggallah seorang petinggi (Kepala Dusun) bersama istrinya. Kehidupan di dusun tersebut sangat makmur, hasil panen melimpah, rakyat hidup tentram dan sejahtera.
Hal ini dikarenakan Petinggi dan istrinya memerintah dengan adil dan bijaksana. Tetapi kebahagiaan itu terasa kurang lengkap karena sudah puluhan tahun mereka hidup sebagai suami istri, namun Dewa belum menganugerahkan seorang anak pun kepada mereka.
Suatu malam Petinggi dan istrinya dikejuntukan oleh suara yang gegap gempita, malam yang tadinya gelap gulita berubah menjadi terang benderang. Dengan memberanikan diri Petinggi dan istrinya itu keluar rumah untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Alangkah terkejutnya mereka karena di halaman rumahnya dijumpai sebuah Batu Naga Mas yang bercahaya, di dalamnya terdapat seorang bayi berselimutkan kain berwarna kuning, tangan kanannya menggenggam sebutir telur, dan tangan kirinya memegang sebuah Keris Mas yang menjadi kalang kepalanya.
Belum hilang rasa terkejut suami istri itu, entah dari mana datangnya terdengar suara gaib. “Bersyukurlah kalian, karena doa kalian untuk mendapatkan anak dikabulkan. Bayi ini adalah keturunan Dewa-Dewa di Kayangan, karenanya jangan disia-siakan. Jangan dipelihara seperti anak manusia biasa dan berilah nama anak ini Aji Batara Agung Dewa Sakti!”
Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara Tijak Tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), juga diadakan upacara Erau. Sejak itu Erau selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kartanegara.
Dalam perkembangannya, upacara Erau selain sebagai upacara penobatan Raja, juga untuk pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan. Menurut
Pelaksanaan upacara Erau dilakukan oleh kerabat Keraton/Istana dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat yang mengabdi kepada kerajaan. Mereka datang dari seluruh pelosok wilayah kerajaan dengan membawa bekal bahan makanan, ternak, buah-buahan, dan juga para seniman. Dalam upacara Erau ini, Sultan serta kerabat Keraton lainnya memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasih Sultan atas pengabdian rakyatnya.
Setelah berakhirnya masa pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara pada tahun 1960, wilayahnya menjadi daerah otonomi yakni Kabupaten Kutai. Tradisi Erau tetap dipelihara dan dilestarikan sebagai pesta rakyat dan festival budaya yang menjadi agenda rutin Pemerintah Kabupaten Kutai dalam rangka memperingati hari jadi kota Tenggarong, pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara sejak tahun 1782.
Pelaksanaan Erau yang terakhir menurut tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara dilaksanakan pada tahun 1965, ketika diadakan upacara pengangkatan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat.
Sedangkan Erau sebagai upacara adat Kutai dalam usaha pelestarian budaya dari Pemda Kabupaten Kutai baru diadakan pada tahun 1971 atas prakarsa Bupati Kutai saat itu, Drs.H. Achmad Dahlan. Upacara Erau dilaksanakan 2 tahun sekali dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong yang berdiri sejak 29 September 1782.
Atas petunjuk Sultan Kutai Kartanegara yang terakhir, Sultan A.M. Parikesit, maka Erau dapat dilaksanakan Pemda Kutai Kartanegara dengan kewajiban untuk mengerjakan beberapa upacara adat tertentu, tidak boleh mengerjakan upacara Tijak Kepala dan Pemberian Gelar, dan beberapa kegiatan yang diperbolehkan seperti upacara adat lain dari suku Dayak, kesenian dan olahraga/ketangkasan.
Festival Erau kini telah masuk dalam Calendar Of Events pariwisata nasional, tidak lagi dikaitkan dengan seni budaya Keraton Kutai Kartanegara, tetapi lebih bervariasi dengan berbagai penampilan ragam seni dan budaya yang ada serta hidup dan berkembang di seluruh wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Boks
Prosesi Erau dilakukan dalam dua tahap. Peratama adalah praErau sedangkan selanjutnya adalah Erau. Berikut tahapan-tahapan pelaksanaan Erau.

PraErau

 Besawai Pemberitahuan. Merupakan prosesi praErau, yaitu berkomunikasi dengan makhluk gaib yang dianggap dapat memberikan kekuatan, perlindungan, dan ketentraman di wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara. Besawai sekaligus merupakan pemberitahuan dan undangan kepada makhluk gaib untuk hadir dalam Erau. Upacara Besawai dilakukan di tempat yang dianggap sebagai pusat aura mistis yang dapat mengkomunikasikan ke kelompok-kelompok makhluk gaib lainnya.
 Beluluh. Beluluh merupakan prosesi di mana Sultan/Putra Mahkota duduk sejenak di Tilam Kasturi, kemudian bangkit dan berjalan menginjakkan kaki pada batu menuju Balai yang berada di atas Tambak Karang melalui molo (guci) kuningan berhias bunga (mayang kelapa atau pinang) yang berada di sebelah kanan dan kiri. Setelah sampai di depan Balai, Sultan/Putra Mahkota naik ke atas Balai dan duduk pada tingkat ke Tiga. Tempat duduk ini berada di bawah hiasan daun beringin dan di belakangnya terdapat Balai Persembahan, sedangkan di sebelah kiri dan kanan dipagari oleh Pangkon Dalam Tujuh Bini, Tujuh Laki, dan Belian, serta di setiap sudut terdapat peduduk.
 Menjamu Benua. Prosesi ini diawali dengan keberangkatan rombongan Dewa dari depan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara menuju ke kediaman Sultan. Dalam rombongan ini, para Dewa diiringi oleh penabuh gamelan dan gendang serta perlengkapan persembahan berupa 21 jenis kue tradisional, perapen, dan pakaian Sultan. Selama menuju ke kediaman Sultan, rombongan memasang berbagai bendera (panji) berwarna kuning, yang terdiri dari lima rumbai di sebelah kiri dan bendera hijau bermotif naga di sebelah kanan. Sesampainya di kediaman Sultan, rombongan Dewa menghadap Sultan sambil membawa pakaian Sultan dan perapen. Di tempat ini, rombongan Dewa memohon restu bahwa Erau akan dilaksanakannya yang diawali prosesi Menjamu Benua.
 Merangin. Ritual Merangin dihelat di Serapo Belian selama tiga malam berturut-turut. Ritual ini digelar setelah ritual Menjamu Benua dilaksanakan pada siang harinya. Ritual ini dimulai ketika tujuh orang Pebelian duduk di lantai Serapo Belian untuk melakukan komunikasi batin dengan makhluk gaib. Setelah komunikasi terjadi para Pebelian berdiri dan mengatur formasi mengelililingi Benyawan (Rumba) sambil menari mengikuti irama gamelan dan gendang.
 Ngalak Air di Kutai Lama. Ritual ini dimulai ketika utusan Dewa dan Belian bertolak dari Tenggarong menuju ke Kutai Lama melalui jalur sungai Mahakam. Rombongan ini membawa serta guci atau molo yang nantinya akan diisi dengan air dari Kutai Lama.
 Ngatur Dahar. Ritual Ngatur Dahar dihelat pada hari yang sama dengan ritual Ngalak Air di Kutai Lama. Namun, jika Ngalak Air di Kutai Lama dilaksanakan pada pagi hingga siang hari, ritual Ngatur Dahar dihelat pada malam hari bersamaan dengan ritual Merangin malam ketiga.

Ada pun proses Erau adalah sebagai berikut
 Mendirikan Ayu. Merupakan ritual pertama (pembuka) dari upacara Erau. Dalam ritual mendirikan Ayu diperlukan berbagai peralatan dan tahapan pelaksanaan. Peralatan dan tahapan pelaksanaan tersebut terdiri dari: Sehidang Jalik dihamparkan dan di atasnya dihiasi Tambak Karang dengan motif naga biasa, naga kurap, dan seluang mas berwarna-warni. Pada Tambak Karang terdapat gambar empat ekor naga yang masing-masing menghadap ke luar, sedang di bagian tengah terdapat motif taman. Seluang mas diisikan pada bagian-bagian lainnya. Keempat naga tersebut masing-masing “bertaringkan” pisang ambon yang dibuat terbuka seolah-olah sedang menggigit Kemala yang disimbolkan sebutir telur ayam kampung. Peralatan lain di sekitar Tambak Karang adalah lilin besar dan kecil, peduduk, piring sebagai alas baju salinan, dan Jambak dari daun kelapa (janur).
 Bepelas. Ritual Bepelas didahului dengan ritual Merangin oleh Dewa dan Belian di Serapo Belian. Usai Merangin, Dewa dan Belian menuju ke keraton dan berputar sebanyak tujuh kali di area Bepelas, kemudian duduk bersila berjajar, Dewa di seblah kanan dan Belian di sebelah kiri dengan dipimpin oleh Pawang menghaturkan sembah hormat.
 Ngalak Air Tuli. Ngalak (mengambil) Air Tuli adalah prosesi pengambilan air yang berada di sungai Kutai Lama yang dipercaya sebagai asal munculnya Puteri Karang Melenu. Puteri ini dikenal sebagai permaisuri Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti. Air Kutai Lama ini kemudian dicampurkan dengan air sungai Mahakam pada acara Bepelas.
 Menyisik Lembu Suana. Lembu Suana merupakan motif yang tergambar di atas sebidang Jalik yang “tertata” Tambak Karang. Motif Lembu Suana dibuat dari beras 37 warna. Ritual Menyisik Lembu Suana dimulai ketika para kerabat bangkit dari duduknya dan mengelilingi Tambak Karang Lembu Suana. Para kerabat kemudian meletakkan mata uang, baik kertas maupun logam, pada setiap bagian motif Lembu Suana yang terdiri dari kepala yang bermahkota, belalai, tubuh, kaki, taji, ekor, sayap, dan sisik dengan terlebih dahulu menghaturkan “niat” masing-masing terhadap pemaknaan dari simbol-simbol dalam diri (wujud) Lembu Suana.
 Dewa dan Belian Menjala. Ritual ini dimulai ketika Dewa Laki bangkit dari duduknya sambil menarik perahu/biduk/gubang berwarna kuning mengelilingi Tambak Karang. Di sisi lain, Dewa Bini menghamparkan kain kuning panjang dan mengelilingi Tambak Karang. Sementara itu, para kerabat/hadirin melemparkan/memasukkan uang ke dalam perahu/biduk/gubang. Prosesi ini menggambarkan aktivitas nelayan yang sedang mencari ikan dengan menggunakan perahu/biduk/gubang dan jala sehingga mendapatkan hasil tangkapan (yang disimbolkan dengan uang) untuk kehidupan sehari-hari.
 Dewa Menjuluk Buah Kamal. Ritual ini membutuhkan berbagai peralatan, antara kain kue-kue tradisional yang dipasang di atas kepala para hadirin dengan seutas tali. Kue-kue tersebut dimasukkan ke dalam plastik sebagai simbolisasi buah. Antara kue satu dengan lainnya dipasang dalam jarak tertentu. Ritual ini menggambarkan bahwa pohon yang berbuah Bawal/Kamal adalah pohon yang dapat memberikan kehidupan dengan menghasilkan buah-buah yang siap makan. Inilah gambaran dari kemurahan sang pencipta yang telah menyediakan alam beserta isinya untuk dinikmati oleh manusia.
 Seluang Mudik. Ritual ini dimulai ketika para kerabat mulai menarikan Tari Ganjur dan diikuti oleh para hadirin. Para penari menata diri dengan formasi beberapa lapis dan saling berhadapan berlawanan arah. Formasi ini melambangkan kehidupan ikan Seluang di sungai Mahakam. Ritual dilanjutkan dengan melemparkan/menaburkan beras yang telah dibawa dalam genggaman tangan, gelas, maupun mangkuk ke arah atas, samping kanan-kiri, dan ke arah para penari sambil bersendau gurau dalam suasana yang gembira. Ritual diakhiri ketika alunan gamelan Ganjur yang mengiringi Tari Ganjur dan Seluang Mudik semakin melemah.
 Ngulur Naga. Ritual Ngulur Naga membutuhkan dua ekor naga, yaitu Naga Laki dan Naga Bini sebagai perlengkapan utamanya. Setiap naga terdiri dari tiga bagian, pertama adalah bagian kepala yang terbuat dari kayu dengan hiasan sisik warna-warni dan sebuah ketopong (mahkota). Kedua adalah bagian leher yang dihiasi dengan kalung dan kain berumbai-rumbai berwarna-warni. Bagian leher disambungkan dengan badan yang kerangkanya terbuat dari rotan dan bambu dan dibungkus kain berwarna kuning dan dihiasi sisik-sisik berwarna-warni. Pada badan dibuat lima lekukan (luk) yang memperlihatkan seolah-olah naga sedang berjalan. Ketiga adalah bagian ekor yang terbuat dari kayu.
 Beumban. Ritual ini dilaksanakan bersamaan ketika naga diberangkatkan menuju ke Kutai Lama. Beumban merupakan acara yang khusus untuk Sultan yang dilakukan oleh zuriat keturunan yang lebih tua. Beumban dilaksanakan di bagian tengah Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara. Ritual ini memerlukan peralatan, yaitu sebuah tilam yang dilapisi/dibungkus kain berwarna kuning, bantal, guling, dan peduduk serta pedianan lilin yang dinyalakan dan ditempatkan di setiap sudut tilam. Sultan berbaring di atas tilam dan diselimuti kain panjang berwarna kuning.
 Begorok. Begorok merupakan ritual yang dihelat setelah selesai dilakukan ritual Beumban dan naga masih dalam perjalanan ke Kutai Lama. Ritual Begorok dihelat di Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara.
 Dalam ritual Begorok dibuat Balai dari Haur Kuning (bambu kuning) bertingkat 41 dan menghadap ke arah timur. Ketika Sultan telah duduk di atas Balai, Dewa dan Belian melakukan Memang, Sultan dipayungi kain putih panjang yang disebut Kirab Tuhing di mana keempat sudutnya dipegang oleh empat orang pembantu yang membolak-balik kain sebanyak dua kali.
 Rangga Titi. Ritual Rangga Titi dimulai ketika rombongan Sultan yang didampingi oleh para kerabat berangkat dari Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara menuju sungai Mahakam (pelabuhan). Sesampainya di pelabuhan, Sultan duduk di atas Balai yang telah disediakan, menghadap ke arah sungai Mahakam (timur), dan diapit oleh tujuh orang Pangkon Laki dan Bini. Dewa dan Belian melakukan Memang dan Kirab Tuhing (kain kuning) dibentangkan memanjang memayungi Sultan. Kirab Tuhing ini dipegang oleh empat pembantu di keempat sudutnya, kemudian membolak-balik dan diputar sebanyak dua kali. Selesai Memang, Dewa dan Belian melakukan Tepong Tawar terhadap Sultan.

 Belimbur. Ritual Belimbur dimulai ketika Sultan telah memercikkan Air Tuli di pelabuhan pada akhir ritual Rangga Titi. Sesaat setelah dipercikkannya air kepada hadirin, maka di tempat acara, sepanjang jalan, dari kota hingga desa, masyarakat melakukan ritual Belimbur (siram-siraman) dengan menggunakan air sebagai sumber kehidupan. Kecuali orang tua atau ibu/bapak yang membawa anak kecil, semua masyarakat diperbolehkan untuk disiram.
 Begelar. Merupakan prosesi pemberian gelar adat dari Kesultanan Kutai Kartanegara kepada pihak-pihak yang dinilai berjasa dalam mendukung, mempertahankan, dan mengembangkan adat budaya di lingkungan administratif Kesultanan Kutai Kartanegara. Acara ini diadakan setahun sekali dan dipublikasikan secara resmi dalam acara Keraton.
 Merebahkan Ayu. Ritual ini dimulai ketika Pangkon Luar yang tadinya bertugas di luar telah masuk ke dalam Keraton tempat Tiang Ayu didirikan untuk bergabung dengan Pangkon Dalam. Sultan dan kerabat juga telah duduk menghadap ke arah Tiang Ayu. Di area ritual Merebahkan Ayu terdapat peralatan, yaitu Jalik Tambak Karang, Tilam, Bantal Kuning, dan Tapak Liman.

Referensi:
Azmidi, 2010. Erau: Tradisi dan ritual Kesultanan Kutai Kartanegara. Tenggarong: Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. (Sumber: http://www.kutaikartanegara.com).

Boks sendiri bos…..

Erau dan Pelecehan Seksual
POLISI DIANGGAP GAGAL MENGEMBAN AMANAH

Siapa sangka, Erau yang menjadi ritual rutin warga Kutai Kartanegara ternyata dimanfaatkan sebagai sarana bagi orang-orang yang tidak beradab untuk melakukan pelecehan seksual. Kejadian amoral itu bukan sekali dua kali terjadi, tapi hampir setiap ritual Erau digelar hal negatif itu selalu terjadi. Menurut Azmidi Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kukar, masalah pengamanan ini sebenarnya sudah diserahkan sepenuhnya kepada pihak berwajib. Namun demikian, pada kenyataannya pelanggaran demi pelanggaran tetap saja terjadi. Lalu dimana peran polisi yang mendapat amanah untuk menjaga keamanan dan ketertiban?
Bukan hanya pelecehan seksual yang terjadi, tapi juga tindak kriminal. Peringatan Erau tahun 2011 yang baru saja selesai beberapa waktu lalu juga membawa korban, tiga orang pemuda menjadi sasaran tikaman pemuda lainnya. Menurut pantauan Borneo News, sejumlah insiden berupa perkelahian nyaris terjadi di beberapa titik di Tenggarong. Dipicu kemarahan lelaki yang merasa tersinggung ketika teman wanitanya disiram sekaligus disentuh. “Ini namanya pelecehan seksual. Bukan hanya itu, air yang digunakan untuk menyiram juga menggunakan air kotor,” tambah warga itu.
Kegiatan selama sepekan itu ditutup dengan upacara Belimbur atau siraman. Tapi sayang, Belimbur yang diikuti ribuan warga itu malah menjadi ajang pelecehan seksual sehingga terjadi sejumlah kericuhan. Menurut salah satu warga yang tidak mau disebutkan namanya, Belimbur setiap tahunnya selalu saja terjadi pelecehan seksual. “Dimana peran polisi yang katanya sebagai aparat yang bisa menjaga ketertiban warga,” ujarnya.
“Saya heran juga, apa begitu caranya Belimbur. Kalau mau menyiram orang, terutama perempuan yang disiram saja. Kenapa ini malah dikeroyok sambil pegang-pegang bagian tubuh orang,” ungkap seorang warga asal Samarinda yang mengaku sengaja datang ke Tenggarong, untuk menyaksikan Belimbur.
Menurut adat, semestinya Belimbur baru dimulai sekitar pukul 12.00 Wita. Pasalnya sebelum acara siraman, harus digelar sejumlah rituan adat, berupa Ngulur Naga yang dilaksanakan di Keraton atau Museum Mulawarman sejak pukul 08.00 Wita. Dilanjutkan Beumban, Begorok dan Rangga Titi.
Jika festival Erau ini dari tahun ke tahun ternyata tidak memberikan manfaat atau malah melahirkan banyak kemudaratan berupa pelecehan seksual dan tindak kriminal lainnya, layakkah dilestarikan?

Posted: 26 Juli 2011 in Uncategorized
Tag:

BOCAH-BOCAH LAMPU MERAH BERJUANG DEMI KELUARGA

Adalah Rahmat (7 tahun), Adi (8 tahun) dan Surya (11 tahun). Mereka bukanlah kawan satu sekolah, namun tiga serangkai ini adalah penjaja koran yang selalu mangkal di Simpang Empat jalan Basuki Rahmat Kota Samarinda Kalimantan Timur.

Naskah & Foto : Hary Firmanto

Ketiganya tampak lusuh. Pakaian yang mereka kenakan pun terlihat seadanya. Seperti Surya yang hari itu hanya mengenakan kaos oblong sudah tak jelas warna aslinya dan celana pendek yang tak kalah kumalnya. Juga dengan sepasang sandal jepit tua. Keringat bercampur debu yang menempel di wajahnya membuat wajahnya tampak semakin hitam kecoklatan seperti gambaran keprihatinan hidup yang dijalaninya.
Kondisi ini tak jauh berbeda dengan kedua rekannya Rahmat dan Adi. Keduanya juga tampak lusuh dengan beberapa ekslempar koran harian pagi di tangan mereka. Koran yang ada ditangan mereka itu nampak lebih penting dari sekedar membersihkan wajah dan kaki mereka yang semakin kusam oleh keringat dan debu yang menyelimuti tubuh mereka.
Ketiga serangkai ini jelas tak bersekolah karena sejak pagi hari sudah berada di Simpang Empat yang padat dengan kendaraan yang melintas itu. “Saya enggak sekolah, karena enggak punya uang. Uang yang saya dapat dari jualan nggak cukup buat makan apalagi buat bayar sekolah,” kata Rahmat memberi alasan.
Meski pemerintah telah membebaskan biaya sekolah, Rahmat, Adi dan Surya tetap tak mampu bersekolah. Harapan kelangsungan hidup keluarganya ikut menjadi tanggung jawab anak-anak ini. Rahmat menyebut, pekerjaan menjaja Koran ini terpaksa harus dijalani semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi orang tuanya hanya pengumpul kardus bekas, sudah barang tentu tak akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhannya jika ia bersekolah.
“Bapak saya kerjanya cuma mengumpulkan kardus bekas, kata ibu uangnya gak cukup untuk beli makan jadi saya membantunya dengan jualan Koran,” kata Rahmat menceritakan kisah hidupnya.
Tentu saja itu pilihan yang teramat sulit bagi anak seusianya. Sebab di usia dini seperti itu ia harus menghadapi hidup dengan penuh resiko. Padahal hasil yang ia dapatkan tak lebih dari Rp 7.500, bahkan seringkali kurang dari itu meskipun ia telah menjajakan koran sejak pagi hingga malam hari.
Harapan untuk sekolah memang tak lantas padam. Seperti yang dinyatakan Surya, namun kerasnya tembok kemiskinan kembali menjadi penghalang cita-cita mereka. “Kepinginnya ya bisa sekolah, tapi sekolah juga butuh makan, terus kami makan apa jika tak kerja,” tegas Surya yang berusia lebih tua diantara tiga serangkai.

Hak Dasar Bersekolah versus Kemiskinan

Berdasar penelitian Organisasi Buruh Internasional (ILO) ada sekitar 4,18 juta anak usia sekolah di Indonesia putus sekolah dan jadi pekerja anak, 19 persen anak-anak di bawah 15 tahun tak bersekolah dan terpaksa bekerja. Survei yang dilakukan ILO ini mencakup 1.200 keluarga di lima provinsi, yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.
Sedangkan dari data Badan Pusat Statistik, di Kaltim sendiri pada tahun 2009, persentase pekerja anak di usia 10 – 17 tahun mencapai 5,83 persen dari jumlah penduduk yang bekerja atau sejumlah 77.152 anak. Sementara jumlah anak tak bersekolah di jenjang Sekolah Dasar mencapai 5.635 anak dan meningkat untuk jenjang SLTP dengan jumlah 15.291 anak dan semakin meningkat untuk jenjang SLTA yang mencapai jumlah 64.458 anak.
Jika dilihat dari nilai rata-rata kehidupan layak di Provinsi ini yang mencapai Rp 1.664.100, jumlahnya sangat berbanding jauh dengan angka kemiskinan yang dipatok pada pendapatan Rp 285.218 per bulan sehingga jumlah penduduk miskin bertambah setiap tahunnya yang pada bulan Mei 2010 mencapai 243.000 orang.
Tentunya hal ini menjadi keprihatinan kita, ketika Program wajib belajar 12 tahun yang dicanangkan Gubernur Awang Faroek Ishak belum mampu mengurangi angka anak putus sekolah yang meningkat dari 0,68 persen di tahun 2008 menjadi 0,88 persen di tahun 2009.
Kini nasib Rahmat, Adi dan Surya tergantung pada kemiskinan keluarga mereka di tengah kayanya provinsi dengan APBD mencapai Rp 7,2 Triliun. Sebab dibutuhkan tenaga besar untuk mendobrak dinding kemiskinan seperti yang tampak hari itu tatkala mereka harus tetap berjuang saat hujan deras mengguyur menggantikan terik panas siang itu. Dengan berlindung di balik plastik usang yang dibuat menyerupai jaket, rutinitas menjaja koran pun mereka lanjutkan untuk menambah uang belanja keluarga. Tak lama, dua bibir dari tiga serangkai itu mulai memucat. Tapi mereka tetap asyik bermandikan hujan dan menunjukkan tekad mereka untuk berjuang melawan kemiskinan dengan menawarkan koran di tangan mereka kepada setiap pengendara yang tertahan traffic light.
Kalau saja pemerintah mau menganggap anak-anak miskin ini adalah anak mereka sendiri, maka paling tidak “masa emas” pendidikan anak-anak itu tidak akan hilang begitu saja.
Padahal di Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 1 ayat 2 dan pasal 9 ayat 1 tentang Perlindungan Anak, dijelaskan tentang kegiatan perlindungan anak dan hak mereka mendapatkan pendidikan sebagai kewajiban dari pemerintah. Demikian juga hasil Konvensi Hak-hak Anak secara jelas menyebutkan negara peratifikasi harus berupaya semaksimal mungkin melindungi kehidupan dan tumbuh kembang anak. Jika tidak, berarti telah terjadi “state neglect” (penelantaran) terhadap hak-hak dasar anak.
Rahmat, Adi dan Surya serta anak-anak lainnya di berbagai simpang jalan kota Samarinda serta daerah lainnya di Kalimantan Timur, dapat menjadi generasi yang tidak memiliki pendidikan hanya karena orang tuanya tidak mampu membiayai mereka untuk bersekolah. Yang muara persoalan bukan pada kemiskinan semata, tetapi pada kepedulian pemerintah tentang hak-hak anak yang luput dari pengawasan. Sampai kapankah kita tega melihat anak-anak ini berjualan koran demi menambah biaya hidup keluarganya sementara anak-anak lainnya dengan riang menikmati pendidikan gratis padahal orang tua mereka berkecukupan.


REVISI ATAU OTSUS ?
KALTIM MENUNTUT KEADILAN

Pembagian hasil pengerukan sumber daya Kaltim nyaris serupa dengan jaman kolonial Belanda. Sebagai daerah penghasil sumber daya alam terbesar, Kaltim hanya kebagian kurang dari 10 persen, sisanya dibawa lari ke pusat dengan dalih Keadilan…..

NASKAH & FOTO : Hary F & Team Borneo News

Selama dua dasa warsa lalu, kayu menjadi komoditas utama bagi Indonesia. Pemasok terbesar saat itu berasal dari Kaltim. Kini hasil kayu nyaris tak bersisa, sedangkan Kaltim hanya kebagian janji manis tak burujung ujud. Terbukti pergantian pemimpin tak membawa dampak perbaikan apa pun untuk peningkatan infrastruktur. Sebaliknya kerusakan sebagian badan jalan menghias hampir diseluruh wilayah Kaltim. Dalihnya keterbatasan anggaran. Padahal sumbangan kaltim untuk pembangunan negara ini mencapai ratusan triliun rupiah.
Kini, masyarakat Kaltim kembali dininabobokan dengan ditetapkannya Kaltim sebagai bagian koridor ekonomi nasional. Pentas akbar berskala nasional kerap dilakukan untuk memberikan hiburan ke masyarakat. Terakhir, hiburan tersebut disuguhkan dalam tajuk PENAS KTNA yang berlangsung di Tenggarong baru-baru ini.
Tentu saja, penyelenggaraan kegiatan tersebut agar masyarakat Kaltim melupakan sejenak ketimpangan yang dirasakan. Selain itu pemerintah pusat juga ingin mengatakan bahwa keadilan sudah dilakukan di provinsi Kaltim. Benarkah ?
Bappeda Kaltim menyebut tahun 2008 lalu ada sekitar 320,6 juta dollar Amerika (USD) atau sekitar 300 triliun rupiah dihasilkan dari bumi Kaltim. Hasil itu sebagian besar berasal dari batu bara dan migas. Demikian pula data di tahun 2010 lalu, sumbangan Kaltim untuk devisa negara berkisar 320 triliun. Tapi lagi-lagi masyarakat Kaltim untuk kesekian kalinya diminta legowo. Tahun lalu, Kaltim hanya di berikan jatah 30-an triliun yang dibagi ke 14 kabupaten dan kota se-Kaltim.
Karenanya tak heran jika Bambang Susilo Anggota DPD RI asal Kaltim cukup gerah dengan sikap pemerintah pusat yang belum juga memberikan pembagian dana perimbangan ini secara adil. Bambang melihat perlu ada upaya yang lebih keras dari seluruh masyarakat Kaltim untuk mendapatkan dana perimbangan lebih besar sebelum semuanya terlambat.
“Perlu ada upaya keras dari masyarakat agar dana perimbangan yang diterima bisa lebih besar dibanding saat sekarang sebelum semuanya terlambat,” tegas Bambang Susilo saat ditemui pada sebuah acara di Tenggarong beberapa waku lalu.
Dikatakannya, sumbangan devisa Kaltim sebanyak 320 triliun rupiah bukanlah angka yang sedikit. Jika hal itu untuk membangun Kaltim sendiri bukan mustahil Kaltim menjadi satu-satu daerah terkaya di dunia. Tidak ada lagi pengangguran seperti sekarang. Kemiskinan bakal menghilang dari bumi Kaltim.
Kenyataannya, devisa yang dihasilkan Kaltim hanya sekedar omong kosong, sebab yang dikembalikan ke Kaltim hanya 1/10 dari total yang diberikan. Dengan angka tersebut untuk membangun infrastruktur Kaltim yang luas wilayahnya mencapai satu setengah kali Pulau Jawa jelas sangat mustahil.
“Seharusnya sebagai daerah penghasil sumber daya alam terbesar, Kaltim setidaknya mendapatkan dana perimbangan 40 – 50 % dari sumbangan yang diberikan pemerintah provinsi Kaltim,” tegas Bambang.
Minimnya dana perimbangan ini tentu mengingatkan kita pada jaman kolonial Belanda dulu. Bedanya, saat itu seluruh hasil bumi dikeruk tanpa ada pembagian hasil. Kini, di jaman kemerdekaan Kaltim masih saja dijadikan sapi perah dan hanya diberikan sebagian kecil dari devisa yang diberikan.
Akan tetapi tidak sedikit masyarakat Kaltim yang masih terlena oleh aktifitas pengerukan hasil bumi yang dilakukan secara frontal. Sikap diam dari sebagian masyarakat ini bisa diartikan sebagai tanda persetujuan ketimpangan pembagian bagi hasil Kaltim yang ditentukan oleh pemerintah pusat.
Bambang juga menyebut keinginan Kaltim untuk mendapat perlakuan adil terkait perimbangan keuangan pusat dan daerah melalui Judicial Review (JR) merupakan harga mati yang harus diperjuangkan dan didukung seluruh warga di Kaltim.
Tidak itu saja Bambang menyebut upaya inisiatif perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan harus disikapi serius baik oleh seluruh lapisan masyarakat Kaltim maupun daerah penghasil Migas di seluruh Indonesia. “Jika negara ini akan sejahtera, tidak ada jalan lain bagi pemerintah pusat selain menyetujui gugatan masyarakat Kaltim,” tandas Bambang.
Pengamat ekonomi Kaltim Prof Dr H Eddy Soegarto K SE, MM, juga sepakat Judikal Review (JR) terhadap UU nomor 33/2004 perlu dilakukan. Eddy menilai langkah JR ditempuh masyarakat Kaltim karena memiliki sejumlah alasan. Di antaranya jalur lobi-lobi politik ke Departemen Keuangan, DPR, dan DPD-RI belum membuahkan hasil. Alasan kedua adalah, biaya perjuangan melalui lobi politik untuk meminta revisi UU nomor 33/2004 itu relatif mahal dan memerlukan waktu yang cukup panjang. Ketiga, jalur perjuangan melalui hukum belum pernah dicoba, yaitu melalui Mahkamah Konstitusi. “Kita harus yakin peluang menang dalam menuntut keadilan ini sangat besar,” ujarnya.
Selama ini, tambah Eddy Soegarto, Kaltim dikenal sebagai “anak manis” yang selalu menurut terhadap berbagai kebijakan yang digulirkan pemerintah pusat. Kendati kebijakan tersebut tidak menguntungkan daerah. Karena itu Eddy melihat Undang-undang nomor 33/2004 terutama pasal 14 huruf e dan f mengandung ketidak adilan karena memberikan porsi pembagian yang jauh dari kata ideal.
Lalu apa isi UU tersebut ?
Seperti diketahui, pasal 14 huruf e UU nomor 33/2004 menyatakan bahwa penerimaan pertambangan minyak bumi dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan dibagi dengan imbangan 84,5% untuk pemerintah pusat, dan yang 15,5% ke pemerintah daerah.
Sedangkan pasal 14 huruf f menyatakan, penerimaan pertambangan gas bumi dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan dibagi dengan perimbangan 69,5% untuk pusat,dan 30,5% untuk daerah.

Tidak adil

Munculnya gugatan terhadap UU tersebut karena pembagian tersebut dinilai tidak menguntungkan Kaltim. Padahal, setiap daerah yang dieksploitasi, pasti alamnya akan hancur. Terlebih lagi saat ini Kaltim mempunyai beban berat untuk memberikan layanan maksimal terutama dalam mensejahterakan hidup warganya yang sebagian besar masih miskin. Selain itu, banyak infrastruktur Kaltim seperti pembangunan jalan, jembatan, pelabuhan maupun kawasan industri yang masih harus diwujudkan secara maksimal.
inisiator JR tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah, Viko Januardy, mengaku upaya JR harus dilakukan dengan soliditas yang tinggi. Perjuangan JR Kaltim ke Mahkamah Konstitsui (MK) merupakan perjuangan konstitusional dan harus diperjuangan secara berjamaah oleh seluruh elemen dan masyarakat di Kaltim.
Meski belum ada keputusan, tapi setidaknya penyampaian Mahfud MD bisa menjadi cerminan menggembiarakan bagi tim JR. Pasalnya, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menyatakan siap menerima dan segera menyidangkan gugatan uji materi atau judicial review (JR) terhadap UU 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan daerah yang diajukan warga Kaltim.
Mahfud juga mengingatkan agar gugatan tersebut tidak dilakukan langsung oleh pemerintah setempat. Sebab, pemerintah provinsi Kaltim merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah pusat. Karena itu jika ingin gugatannya dikabulkan harus dilakukan oleh LSM, ormas atau lembaga non pemerintahan yang ada di Kaltim.
Dukungan
Inisiator lainnya yakni Mukhlis Ramlan yang juga sekretaris KNPI Kaltim menyebut upaya ngotot dari MRKTB untuk memperjuangkan revisi ternyata tidak seluruhnya mendapat dukungan penuh dari 14 kabupaten dan kota se-kaltim. Meski tak mau menyebut secara jelas, namun Mukhlis memberikan gambaran daerah yang hanya setengah-setengah mendukung yakni daerah yang minus sumber daya alamnya. Sebaliknya jika daerah-daerah penghasil Sumber Daya Alam seperti kukar sepenuhnya memberikan dukungan. Namun demikian ia yakin, dalam waktu dekat 14 kabupaten dan kota ini akan sepenuhnya memberikan dukungan baik secara moril maupun materiil.
Dikatakannya, revisi terhadap UU yang kini digugat masyarakat kaltim akan berdampak penting untuk kemajuan pembangunan di daerah ini. Pasalnya, dengan angka sekitar 150 triliun Muhkhlis yakin dari utara hingga selatan Kaltim tidak lagi bakal ditemui jalan berlubang. Begitu juga keuntungan yang dirasakan langsung oleh seluruh masyarakat yakni tidak lagi dihantui oleh mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan. Tak terkecuali persoalan kemiskinan. Sebab, dengan angka tersebut pemerintah Kaltim setidaknya mampu memberikan jaminan kesejahteraan terhadap seluruh lapisan masyarakat terutama untuk meningkatkan taraf hidupnya.
Kuatir
Mencuatnya tuntutan terhadap materi pokok di UU nomor 33/2004 ini ternyata juga menimbulkan kekuatiran kalangan dewan. Kekuatiran tersebut tertutama mengenai pemanfaatan dana jika tuntuan revisi tersebut dikabulkan, hal itu seperti disampaikan Saefuddin Dj anggota DPRD Kaltim yang juga ketua DPD Partai Gerindra Kaltim.
Kekuatiran Saefuddin Dj ini melihat banyaknya dana APBD yang dijadikan “bancaan” sejumlah oknum untuk memperkaya diri sendiri. Termasuk diantaranya lebih mementingkan proyek-proyek mercusuar ketimbang proyek yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat kecil.
“Kekuatiran itu tetap ada, terutama mental para pejabat di daerah ini yang lebih dulu harus diperhatikan, beberapa contoh sudah membuktikannya. Dari pengalaman yang ada, sebagai wakil rakyat saya tidak ingin kejadian lalu terulang dimasa mendatang,” ungkapnya memberikan pendapat.
Menyangkut adanya beberapa kabupaten dan kota yang setengah-setengah memberikan dukungan menurut Saefuddin hal itu perlu diberikan pemahaman mendalam tentang manfaat revisi. Tapi, tambahnya, yang dikehendaki yakni berupa dukungan finansial saja. Sebab jika dukungan dalam bentuk gugatan tentu sangat mustahil. “Kan sangat mustahil jika pemerintah dengan pemerintah saling gugat, idealnya daerah-daerah ini perlu diberikan pemahaman tentang manfaat yang bisa dirasakan jika revisi tersebut benar-benar dikabulkan,” ujarnya kemudian.

Cadangan Migas Kaltim

Pada tahun 2002, Kalimantan Timur memiliki cadangan (cadangan potensial) minyak sekitar 1,3 miliyar barel atau 13% dari cadangan minyak nasional yang besarnya 9,7 milyar barel, dan memiliki cadangan gas total sebesar 47.8 TCF (Trillion Cubic Feet – triliun stadar kaki kubik) atau setara dengan delapan miliyar barel minyak. Cadangan gas Kalimantan timur yang besarnya sekeitar 28 % dari cadangan nasional mempunyai arti penting dalam perekomomian nasional dan daerah dimasa datang.
Sementara secara nasional sejak tahun 1999, Indonesia sempat meduduki peringkat ke tujuhbelas dunia sebagai negara pengekspor minyak atau kira-kira 2,0 persen dari produksi minyak dunia. Cadangan total minyak nasional sat itu kira-kira 9,8 milyar barrel (termasuk 5,3 milyar barel cadangan terbukti).
Namun sejak tahun 1997, produksi Indonesia sebesar 1,58 juta barel perhari, terus menurun menjadi 1,56 juta barel perhari pada tahun 1998, menjadi 1,50 juta barel perhari pada tahun 1999, menjadi 1,3 juta barel perhari pada tahun 2002. Angka penurunan berlanjut terus menjadi 1,146 juta barel perhari pada tahun 2003. Kemudian tahun 2004, kemampuan produksi minyak Indonesia turun lagi menjadi kurang dari satu juta barrel perhari. Bahkan jika sebelumnya Indonesia disebut-sebut negara pengekspor kini berbalik arah menjadi negara pengimpor terbesar di dunia.
Haruskah masyarakat kaltim baru menyadari ketika cadangan ini benar-benar habis terkuras baru kemudian melakukan gugatan. Karena itu MRKTB yang kini tengah berjuang di tingkat pusat untuk merivisi UU no 23/2004 hendaknya mendapat dukungan penuh dari semua elemen masyarakat.